INILAH RAJA

Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: "Inilah raja orang Yahudi." – Lukas 23:35-38

 

Di Yudea pada masa penjajahan Romawi, sudah menjadi kebiasaan bahwa seseorang yang akan dieksekusi dipasangi sebuah tulisan yang menyebutkan kejahatan yang telah ia lakukan. Namun, tidak begitu dengan Yesus: Yesus sepenuhnya tidak bersalah atas kesalahan apa pun.

 

Lalu, mengapa Pilatus memasang sebuah tulisan di salib Yesus yang berbunyi, “Inilah Raja orang Yahudi”?

 

Jawabannya dapat kita temukan dalam Injil Yohanes. Yohanes mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan. Dialah Yang Terpilih dari Israel. Dan Pilatus, yang menyadari nubuat-nubuat itu serta semua harapan dan ekspektasi yang melekat pada diri Yesus, ingin memaksa orang-orang Yahudi untuk bergumul dengan kenyataan bahwa raja yang mereka kira itu ternyata “bukan raja” sama sekali—karena ia tergantung di kayu salib dengan tubuh yang hancur.

 

Oleh karena itu, Yohanes mencatat bahwa para pemimpin Yahudi datang kepada Pilatus dan memintanya untuk mengubah tulisan pada papan itu. Mereka ingin tulisannya berbunyi, “Orang ini berkata: inilah Raja orang Yahudi.” Tetapi Pilatus menjawab, “Apa yang kutulis, tetap tertulis” (Yoh. 19:21–22). Keputusannya final. Dan demikianlah Yesus mati di bawah sebuah papan yang menyatakan identitas-Nya yang sebenarnya.

 

Namun ketika mereka melihat tulisan itu, bukannya tunduk kepada Yesus sebagai Raja, justru “para pemimpin mengejek Dia” dan “para prajurit mengolok-olok Dia.” Dari lapisan masyarakat paling tinggi sampai yang paling rendah, dari yang paling berpendidikan sampai yang paling rendah, reaksinya sama: penolakan. Baik para pemimpin maupun para prajurit berpandangan bahwa seorang Mesias yang sejati pasti dapat menyelamatkan diri-Nya sendiri. Dengan kata lain, mereka menganggap mereka akan tahu bahwa Yesus benar-benar Mesias jika Dia menyelamatkan diri-Nya. 

 

Di sinilah ironi terbesar itu muncul: Yesus tidak menyelamatkan diri-Nya bukan karena Ia tidak mampu, tetapi karena Ia sedang menyelamatkan semua orang yang datang kepada Allah melalui Dia. Jalan Allah bukanlah jalan manusia.  Bukti identitas Yesus sebagai Raja bukanlah kuasa-Nya turun dari salib, melainkan kasih-Nya yang membuat-Nya tetap tinggal di salib untuk mati menggantikan kita.

 

Sangat mudah untuk berasumsi bahwa kita tidak mengejek dan mengolok seperti orang-orang di sekitar salib. Namun kadang-kadang kita berpikir dan bertindak persis seperti para pemimpin dan para prajurit itu, menunggu Allah melakukan sesuatu yang masuk akal bagi kita, menolak untuk percaya bahwa jalan-jalan-Nya selalu baik dan penuh kasih, lalu gagal melihat rencana-Nya yang sempurna terungkap tepat di depan kita.

 

Dalam setiap pergumulan dan pencobaan, ingatlah betapa akuratnya tulisan yang dibuat oleh Pilatus, Kristus adalah Raja yang sejati, dan Ia adalah Raja segala raja dan Tuhan segala tuan (Why. 19:16). Kepada-Nya lah seluruh hidup, pujian, dan penyembahan kita harus tertuju.

 

Refleksi
Bacalah Wahyu 19:11-16 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

 

1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 10-12; Lukas 16:1-31