ALLAH YANG MEMEGANG KENDALI
Kejadian 41-42
Di dunia yang rusak ini, penting untuk mengingat bahwa kesulitan bukanlah hal yang utama, melainkan Allah.
Jika saat ini Anda tidak mengalami kesulitan, suatu hari Anda pasti akan mengalaminya. Dan jika bukan Anda yang sedang mengalaminya, sangat mungkin ada orang di dekat Anda yang sedang bergumul. Alkitab dengan jujur menggambarkan dunia tempat kita hidup. Rasul Paulus mengatakan bahwa seluruh ciptaan sedang mengeluh sambil menantikan penebusan Allah (Rm. 8:22). Petrus juga menasihati agar kita tidak heran ketika menghadapi berbagai ujian (1 Pet. 4:12).
Sejak Kejadian 3 hingga akhir kitab Wahyu, Alkitab dipenuhi kisah tentang dunia yang jatuh dalam dosa dan realitas penderitaan. Karena dunia ini tidak lagi berjalan sesuai dengan rancangan Allah semula, dan karena dihuni oleh manusia yang berdosa, kesulitan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari gangguan kecil yang membuat kita jengkel hingga penderitaan besar yang mengubah hidup, setiap orang pasti menghadapi hal-hal yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan.
Mudah sekali bagi kita untuk merasa lelah dan putus asa karena beratnya hidup. Mudah pula menjadi sinis, negatif, dan mulai meragukan kebaikan Allah serta keteguhan janji-janji-Nya. Di sinilah kisah hidup Yusuf yang penuh penderitaan menolong kita melihat sesuatu dengan lebih jelas. Melalui kisah Yusuf, kita diingatkan bahwa penderitaan bukan pusat cerita—Allah-lah pusatnya. Kesulitan tidak memegang kendali; Allah yang memegang kendali.
Saat membaca kisah Yusuf, kita bisa merasa frustrasi: ia dijual oleh saudara-saudaranya sendiri, dibawa ke negeri asing, lalu dipenjarakan karena menolak berbuat dosa dengan istri tuannya. Wajar jika kita bertanya, “Di manakah Allah dalam semua ini? Apa yang sedang Dia lakukan?”
Namun semakin jelas bahwa semua kesulitan itu bukanlah kegagalan rencana Allah dan juga tidak menggagalkannya. Justru di tengah situasi yang tampak gelap dan seolah Allah tidak hadir, Dia tetap bekerja dengan setia untuk kebaikan Yusuf. Ketika kejahatan tampak menang, Allah sebenarnya sedang menjalankan rencana-Nya yang penuh hikmat. Penjara bukanlah akhir perjalanan Yusuf. Melalui masa penjara dan karunia Allah untuk menafsirkan mimpi, Yusuf akhirnya diangkat dari seorang pengawas rumah perwira Mesir menjadi orang kedua paling berkuasa di Mesir (Kej. 41–42). Apa yang tampak sebagai kehancuran ternyata adalah alat penebusan di tangan Allah.
Sebagai anak-anak Allah, hidup kita tidak ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh Allah yang berdaulat atas setiap keadaan. Walaupun kesulitan tampak seolah-olah menang, apa pun pergumulan yang sedang Anda hadapi bukanlah tujuan akhir hidup Anda. Allah sedang mempersiapkan kita menuju tujuan yang kekal, di mana penderitaan akan berakhir dan kesulitan tidak ada lagi untuk selamanya.
Kisah Yusuf dan puncaknya dalam karya Kristus, mengingatkan kita akan kebenaran ini: Allah memerintah. Allah setia. Dan di dalam Kristus, penderitaan kita tidak sia-sia. Salib membuktikan bahwa Allah sanggup memakai kejahatan terbesar untuk menghadirkan keselamatan terbesar. Karena itu, kita boleh berharap—bukan karena dunia ini baik, tetapi karena Allah itu baik dan berdaulat sampai akhir.
Refleksi
Bacalah 1 Petrus 5:6-11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 41-42