PENGHARAPAN KITA HANYA PADA ALLAH
YEREMIA 30–31

 

Pengharapan kita, baik untuk kehidupan sekarang maupun kehidupan yang akan datang adalah pengharapan yang berdiri di atas perjanjian Allah.

 

Setiap manusia yang pernah hidup di dunia ini pasti pernah mencari pengharapan. Pengharapanlah yang membuat kita bangun setiap pagi dan memberi kita alasan untuk terus menjalani hidup. Di dalam pengharapan, kita mencari makna dan tujuan. Pengharapan membuat kita percaya bahwa, dengan cara tertentu, keadaan akan menjadi lebih baik. Bahkan ketika hidup terasa berat, pengharapan membuat kita terus melangkah. Pengharapan adalah cahaya yang menerangi kita di tengah kegelapan.

 

Namun, tidak semua pengharapan dapat diandalkan. Kita bisa berharap kepada seseorang, tetapi orang itu mengecewakan. Kita berharap pada keadaan, tetapi keadaan berubah. Kita berharap pada kekuatan diri sendiri, tetapi kita menyadari bahwa kemampuan kita terbatas. Sering kali kita akhirnya kecewa karena kita menaruh pengharapan kepada sesuatu yang memang tidak pernah dirancang untuk menjadi dasar pengharapan kita. Tetapi ada satu pengharapan yang tidak akan mengecewakan yaitu pengharapan yang berakar pada janji Allah.

 

Yeremia menyampaikan janji ini kepada umat Allah yang sedang berada dalam keadaan yang sangat sulit. Mereka telah mengalami kehancuran dan pembuangan karena dosa mereka. Namun, Allah tidak meninggalkan mereka. Di tengah keadaan yang gelap, Allah membuka sedikit gambaran tentang masa depan yang akan Dia kerjakan. “Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yer. 31:31–34).

 

Perhatikan betapa besar janji ini. Allah tidak hanya berjanji memperbaiki keadaan luar umat-Nya. Dia berjanji melakukan sesuatu yang jauh lebih dalam yakni Dia akan mengubah hati mereka. Masalah manusia sebenarnya bukan hanya keadaan di luar dirinya. Masalah terdalam kita adalah hati yang berdosa. Kita tahu apa yang benar, tetapi sering tidak melakukannya. Kita tahu apa yang Tuhan kehendaki, tetapi hati kita mudah memberontak. Kita dapat mengetahui firman Tuhan tanpa sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Karena itu, kita membutuhkan lebih dari sekadar aturan yang lebih baik. Kita membutuhkan hati yang baru. Inilah yang Allah janjikan melalui perjanjian baru. Allah berkata bahwa Dia akan menaruh Taurat-Nya dalam batin umat-Nya dan menuliskannya dalam hati mereka. Dia akan menjadi Allah mereka, mereka akan menjadi umat-Nya, dan Dia akan mengampuni kesalahan mereka.

 

Janji ini digenapi di dalam Yesus Kristus. Pada malam sebelum penyaliban-Nya, Yesus berbicara tentang perjanjian baru dalam darah-Nya. Melalui kematian-Nya di kayu salib, Kristus menanggung hukuman atas dosa kita dan membuka jalan bagi kita untuk diperdamaikan dengan Allah. Kebangkitan-Nya menjadi jaminan bahwa dosa dan maut tidak lagi memiliki kata terakhir. Kristus bukan hanya memberikan harapan kepada kita, Kristus adalah dasar pengharapan kita.

 

Karena itu, pengharapan orang percaya tidak bergantung pada seberapa baik hidup kita berjalan. Kita dapat mengalami hari yang sangat berat dan tetap memiliki pengharapan. Kita dapat gagal dan tetap datang kepada Allah. Kita dapat menghadapi masa depan yang tidak kita mengerti dan tetap percaya. Mengapa? Karena keselamatan kita berdiri di atas kesetiaan Allah, bukan kesetiaan kita yang sempurna. Jadi, pengharapan kita bukan sekadar, "Semoga besok lebih baik." Pengharapan Kristen jauh lebih kuat: "Allah telah berjanji, Kristus telah menyelesaikan karya keselamatan, Roh Kudus sedang bekerja di dalam kita, dan suatu hari nanti Allah akan menyempurnakan semuanya." Salib adalah bukti bahwa Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Di sana kita melihat bahwa Dia rela memberikan Anak-Nya sendiri untuk menyelamatkan kita. Jika Allah telah memberikan Kristus bagi kita, kita dapat mempercayakan seluruh masa depan kita kepada-Nya.

 

Hari ini, peganglah janji Allah ketika perasaan Anda tidak mampu memberikan pengharapan. Ketika kekuatanmu habis, ingatlah bahwa kesetiaan Allah tidak pernah habis. Ketika masa depan terlihat gelap, ingatlah bahwa Allah sudah memegang masa depanmu. Dan ketika Anda menyadari betapa tidak sempurnanya dirimu, ingatlah bahwa pengharapanmu tidak berdiri di atas kebaikanmu, tetapi di atas Kristus yang sempurna. Kita memiliki pengharapan karena Allah telah membuat perjanjian yang indah dan kekal, dan Dia tidak akan pernah mengingkari-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Matius 26:26–29 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?


Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 30-31