TUHAN SELALU ADA
YEREMIA 32–34

 

Kita tidak dapat memahami siapa Allah dan apa yang sedang Ia kerjakan hanya berdasarkan keadaan yang kita alami. Sebaliknya, kita perlu mengenal siapa Allah dan mengingat apa yang telah Dia kerjakan, supaya kita dapat melihat keadaan kita dengan cara yang benar.

 

Ketika dunia melihat penderitaan yang dialami umat Tuhan, orang-orang dapat mengejek kita. Mereka mungkin bertanya, “Di mana Tuhanmu sekarang? Mengapa Ia membiarkan hal-hal mengerikan seperti ini terjadi? Mengapa Ia membiarkan orang baik mengalami penderitaan? Tidakkah kamu melihat bahwa Ia sudah meninggalkanmu? Atau jangan-jangan Tuhan itu memang tidak ada?” Ejekan seperti ini, baik yang disampaikan secara terang-terangan maupun secara halus, memang tidak mudah untuk dihadapi.

 

Namun, tantangannya tidak hanya datang dari luar diri kita. Karena jalan Tuhan bukanlah jalan kita dan pikiran-Nya bukanlah pikiran kita, terkadang tindakan Allah sendiri juga sulit kita mengerti. Ada saat-saat ketika kita merasa seolah-olah Tuhan tidak mendengar doa kita. Kehadiran-Nya tidak selalu terasa dekat. Ada masa ketika kita bahkan kesulitan mempercayai bahwa Ia sungguh peduli kepada kita. Dalam keadaan seperti itu, kita mudah tergoda untuk mendengarkan suara-suara yang mempertanyakan bukan hanya kebaikan Allah, tetapi juga keberadaan-Nya.

 

Hal yang sama terjadi pada zaman Yeremia. Ketika Allah sedang mendisiplin umat-Nya karena dosa mereka, keadaan yang mereka alami tampak seperti bukti bahwa Allah telah meninggalkan mereka. Yerusalem dihancurkan, sesuatu yang hampir tidak terpikirkan sebelumnya. Bahkan Bait Allah, tempat yang begitu penting bagi kehidupan dan ibadah mereka, dihancurkan.

 

Bayangkan betapa mengerikannya keadaan itu. Keluarga-keluarga dipisahkan. Rumah-rumah mereka ditinggalkan. Mereka dipaksa keluar dari tanah mereka sendiri dan dibawa sebagai tawanan oleh bangsa asing. Mungkin muncul pertanyaan di hati mereka: “Apakah Allah sudah membuang umat yang dipilih-Nya? Apakah Dia sudah melupakan perjanjian-Nya? Apakah rencana-Nya gagal?”

 

Di tengah kebingungan itu, Allah memberikan jawaban yang penuh pengharapan. Firman TUHAN datang kepada Yeremia: "Tidakkah kauperhatikan apa yang dikatakan orang-orang ini: Kedua kaum keluarga yang dipilih TUHAN itu telah ditolak-Nya? Dengan demikian mereka menghina umat-Ku, dianggapnya bukan suatu bangsa lagi. Beginilah firman TUHAN: Jika Aku tidak menetapkan perjanjian-Ku dengan siang dan malam dan aturan langit dan bumi, maka juga Aku pasti akan menolak keturunan Yakub dan hamba-Ku Daud, sehingga berhenti mengangkat dari keturunannya orang-orang yang memerintah atas keturunan Abraham, Ishak dan Yakub. Sebab Aku akan memulihkan keadaan mereka dan menyayangi mereka." (Yer. 33:23–26).

 

Perhatikan bagaimana Allah menjawab keraguan umat-Nya. Allah tidak berkata bahwa keadaan mereka akan langsung berubah. Dia tidak mengatakan bahwa mereka tidak akan mengalami penderitaan. Sebaliknya, Dia mengingatkan mereka bahwa perjanjian-Nya tetap teguh sekalipun keadaan mereka sedang hancur. Allah memakai sesuatu yang dapat mereka lihat setiap hari yaitu siang dan malam, langit dan bumi. Selama matahari masih terbit dan malam masih datang, mereka dapat mengingat bahwa Allah tetap memegang kendali. Dengan kata lain, Allah sedang berkata, "Jangan mengukur kesetiaan-Ku dari keadaanmu. Janji-Ku jauh lebih kokoh daripada apa yang sedang kamu alami."

 

Umat Israel mungkin merasa ditolak. Tetapi perasaan mereka tidak mengubah kenyataan tentang Allah. Dan kita pun demikian. Kita dapat merasa Allah jauh, tetapi itu tidak berarti Allah benar-benar meninggalkan kita. Kita dapat merasa doa kita tidak didengar, tetapi itu tidak berarti Allah berhenti mendengar. Kita dapat melihat keadaan yang begitu buruk sampai tidak mampu memahami apa yang sedang Allah kerjakan, tetapi ketidakmampuan kita memahami rencana Allah tidak berarti Allah kehilangan kendali. Ada kalanya Allah tidak memberi kita penjelasan, tetapi Dia selalu memberikan alasan untuk percaya kepada-Nya, karena Dia adalah Allah yang setia.

 

Hal ini semakin jelas dalam Injil. Jika kita hanya melihat keadaan pada hari Jumat Agung, kita mungkin mengira bahwa Allah telah gagal. Yesus ditolak, dihina, disalibkan, dan mati. Para murid tercerai-berai. Seolah-olah semuanya telah berakhir. Tetapi Allah sedang mengerjakan keselamatan melalui salib. Salib menjadi bukti terbesar bahwa kita tidak boleh menilai kasih dan kesetiaan Allah hanya berdasarkan keadaan yang sedang kita alami. Kalau Allah rela menyerahkan Anak-Nya sendiri bagi kita, maka kita memiliki alasan yang cukup untuk percaya bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita sekarang.

 

Lebih dari itu, kebangkitan Kristus menjamin bahwa penderitaan, dosa, dan kematian tidak akan menjadi akhir cerita. Kristus telah menang, dan suatu hari nanti kemenangan itu akan dinyatakan dengan sempurna. Karena itu, ketika hidup kita dipenuhi pertanyaan, jangan buru-buru mendengarkan suara yang berkata, "Allah sudah meninggalkanmu." Kembalilah kepada firman Tuhan. Ingatlah siapa Dia. Ingatlah salib Kristus. Ingatlah kebangkitan-Nya. Ingatlah janji-janji-Nya.

 

Mungkin hari ini Anda sedang menghadapi keadaan yang tidak masuk akal. Ada doa yang belum dijawab. Ada penderitaan yang belum berakhir. Ada keadaan yang membuatmu bertanya, "Tuhan, apakah Engkau masih ada?" Allah tetap setia ketika kita tidak mengerti. Allah tetap baik ketika hidup terasa buruk.  Allah tetap memegang kita ketika kita merasa kehilangan kendali. Apa yang telah Allah janjikan dapat Anda pegang, sebab kesetiaan-Nya tidak pernah berubah.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 14:1–7 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 32-34