HIKMAT YANG DIBUTUHKAN DUNIA
Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan. – Yakobus 3:13
Sangat mudah bagi kita untuk bingung antara hikmat dan kecerdasan. Ketika seseorang selalu punya jawaban yang benar dan pengetahuan luas tentang hampir semua hal, terutama ayat-ayat Alkitab, kita mungkin cenderung berasumsi bahwa mereka pasti berhikmat. Dan bisa jadi memang benar. Namun, kemampuan intelektual dan daya ingat yang tinggi tidak otomatis sama dengan hikmat sejati.
Dalam surat Yakobus, hikmat tidak dihubungkan dengan banyaknya pengetahuan, melainkan dengan cara hidup yang baik dan sikap lemah lembut. Orang yang benar-benar berhikmat di hadapan Allah akan bertindak selaras dengan kerendahan hati (Flp. 2:3–4), kelemahlembutan (Ef. 4:2), dan sukacita (1Tes. 5:16) yang Allah kehendaki dari umat-Nya. Allah tidak membutuhkan penasihat (Rm. 11:34)—Ia juga tidak menuntut kita untuk membuat-Nya terkesan dengan segala pengetahuan kita. Sebaliknya, Allah menyatakan bahwa yang menarik perhatian-Nya mereka yang “tertindas dan patah semangatnya dan yang gentar kepada firman-Ku” (Yes. 66:2). Yakobus memiliki ungkapan yang mengesankan untuk hidup dan diri kita: “kelemahlembutan yang lahir dari hikmat.”
Orang yang benar-benar bijak tahu betapa terbatasnya dirinya. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia sadar bahwa apa yang ia ketahui hanyalah bagian kecil dari kebesaran pengetahuan Allah. Hikmat yang sejati tidak ditandai oleh pamer kecerdasan, kata-kata yang melukai, atau keinginan untuk mengalahkan orang lain dalam perdebatan. Sebaliknya, hikmat itu ditandai oleh kerendahan hati yang selalu berupaya membangun orang lain dengan apa pun yang kita punya—entah itu kekuatan fisik, intelektual, rohani, ataupun emosional.
Hikmat seperti ini sejalan dengan pengakuan nabi Yesaya: “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu” (Yes. 50:4).
Orang yang benar-benar berhikmat memelihara pandangan yang tinggi tentang Allah, pandangan yang rendah hati tentang diri mereka sendiri, dan pandangan yang murah hati tentang orang lain. Bagaimana Anda tahu jika Anda memiliki pandangan yang tinggi tentang Allah? Jika Anda hidup dengan kesadaran penuh bahwa Anda sepenuhnya bergantung kepada-Nya. Bagaimana Anda tahu jika Anda memiliki pandangan yang rendah hati tentang diri Anda sendiri? Jika Anda menyadari keterbatasan Anda sendiri dan mengakui bahwa semua yang Anda miliki hanyalah anugerah Allah. Bagaimana Anda tahu jika Anda memiliki pandangan yang murah hati tentang orang lain? Jika Anda secara rutin membangun mereka daripada menjatuhkan mereka.
Inilah hikmat yang menyenangkan hati Allah—hikmat yang dinyatakan dalam perbuatan baik dan kelemahlembutan yang konsisten. Inilah hikmat yang sangat dibutuhkan dunia saat ini: bukan hikmat yang meninggikan diri, melainkan hikmat yang memuliakan Kristus.
Dalam terang Injil, kita tahu bahwa hikmat sejati tidak lahir dari usaha manusia semata, tetapi dari hidup yang telah disentuh oleh kasih karunia Kristus. Salib merendahkan kesombongan kita dan sekaligus memberi kita identitas yang aman di dalam Dia. Karena kita sudah diterima oleh Allah di dalam Kristus, kita tidak perlu membuktikan diri melalui kepintaran, melainkan bebas untuk hidup dalam kelemahlembutan. Bagaimana kebenaran ini menantang hidupmu hari ini? Bagaimana Anda akan mengejar dan menghidupi hikmat sejati—hikmat yang berakar pada Injil—dalam keseharianmu?
Refleksi
Bacalah Yakobus 3:13-18 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 13-15; Lukas 17:1-19