KARENA ALLAH SETIA
Kejadian 43–45
Iman kita bertumpu pada janji Allah, dan janji itu bertumpu pada Allah yang setia.
“Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: ‘Katakanlah kepada saudara-saudaramu… pergilah ke tanah Kanaan, jemputlah ayahmu dan seisi rumahmu dan datanglah mendapatkan aku. Maka aku akan memberikan kepadamu apa yang paling baik dari tanah Mesir, sehingga kamu akan mengecap kesuburan tanah ini’” (Kej. 45:17–18).
Catatan dari Alkitab ini seharusnya membuat kita takjub. Bagaimana mungkin seorang anak yang dijual oleh saudara-saudaranya sebagai budak kepada orang asing bisa naik ke posisi kekuasaan yang begitu besar? Dan yang lebih mengejutkan lagi, mengapa seorang penguasa Mesir begitu peduli kepada seorang ayah yang sudah tua dan anak-anaknya yang tinggal jauh di Kanaan? Kisah ini berjalan ke arah yang sama sekali tidak kita duga.
Yusuf kini menjadi orang kedua tertinggi di Mesir. Ia mengawasi penyimpanan makanan dan gandum dalam jumlah yang begitu besar sampai-sampai tidak bisa lagi dihitung. Kelaparan melanda seluruh wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Timur Tengah. Namun karena karya Allah melalui Yusuf, Mesir justru berlimpah makanan. Ketika Firaun mendengar bahwa saudara-saudara Yusuf ada di Mesir, ia memerintahkan Yusuf untuk menyuruh mereka pulang dan membawa ayah serta seluruh keluarga mereka. Firaun sendiri berjanji akan menyediakan segala keperluan mereka.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini? Ini jauh lebih dari sekadar kisah tentang saudara-saudara yang jahat dan keberhasilan Yusuf meraih kekuasaan di Mesir. Ini adalah kisah tentang kuasa Allah dan kesetiaan-Nya yang teguh pada perjanjian-Nya. Allah tidak akan pernah membiarkan apa pun untuk menghalangi apa yang telah Ia janjikan. Ia tidak pernah menarik kembali janji-Nya. Ia tidak pernah ingkar janji. Namun, cara Allah menggenapi janji-janji-Nya sering kali membingungkan dan mengejutkan kita.
Tidak seorang pun akan menyangka bahwa penjualan Yusuf sebagai budak merupakan langkah awal dalam rencana Allah yang berdaulat untuk memelihara umat perjanjian-Nya. Tanpa kehadiran Yusuf di Mesir, Israel dan anak-anaknya kemungkinan besar akan mati kelaparan di tanah Kanaan. Janji Allah kepada Abraham tidak akan tampak berlanjut: tidak ada keturunan sebanyak bintang di langit, tidak ada bangsa Israel, tidak ada raja Daud.
Lebih dari itu, tanpa kesetiaan Allah dalam kisah Yusuf, tidak akan ada Mesias yang lahir di Betlehem, tidak akan ada Yesus yang hidup benar sempurna, tidak akan ada Anak Domba yang tak bercela yang diserahkan di kayu salib, tidak akan ada kebangkitan yang menang, tidak akan ada anugerah pengampunan, tidak akan ada kebebasan dari dosa, tidak akan ada gereja, dan tidak akan ada hidup yang kekal.
Walaupun pada awalnya tampak tidak masuk akal, Allah sedang menuliskan kisah Yusuf yang penuh penderitaan karena Ia tahu betapa kita membutuhkan Yesus dan karya keselamatan-Nya. Allah setia memelihara perjanjian-Nya, menjaga garis keturunan Abraham, supaya dari keturunan itu lahir Yesus—Dia yang datang untuk menyelamatkan kita dari dosa.
Kita tidak akan pernah mengerti kisah hidup kita sendiri sampai kita memulainya dari kuasa, kehadiran, kesetiaan, dan anugerah Allah. Inilah Injil: Allah setia bekerja di balik penderitaan untuk menghadirkan keselamatan yang tidak mungkin kita kerjakan sendiri.
Refleksi
Bacalah Bilangan 23:18–24 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 43-45