MENUNGGU DAN MENANTI
MAZMUR 36–39 

 

Iman kepada Tuhan terlihat dari kerelaan kita untuk menunggu dengan sabar dan menanti dengan rendah hati.

 

Dalam hikmat-Nya yang tak terbatas, Allah dengan setia menggenapi apa yang telah Ia tetapkan dan janjikan pada waktu-Nya sendiri. Waktu Tuhan tidak pernah salah. Tuhan tidak hanya memberikan yang terbaik bagi umat-Nya, tetapi Ia juga memberikannya pada waktu yang paling tepat. 

 

Kita perlu belajar menunggu dengan sabar, sebab menunggu adalah bagian penting dari kehidupan iman. Bagi banyak orang, tentu saja menunggu bukanlah hal yang mudah. Ada kalanya kita ingin segala sesuatu berjalan lebih cepat sesuai dengan jadwal dan keinginan kita sendiri. Kita tidak nyaman ketika harus menunggu dalam antrean, menunggu jawaban doa, atau menunggu Tuhan bekerja. 

 

Namun, ketidaksabaran adalah dosa karena menempatkan kebutuhan, keinginan, dan rencana kita di atas kehendak Allah. Ketidaksabaran lahir dari keinginan untuk mengendalikan hidup lebih besar daripada yang Tuhan rancangkan bagi kita. Mazmur 37 mengingatkan kita: "Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia" (Mzm. 37:3–5, 7a).

 

Lalu seperti apa wujud menanti Tuhan? Menanti Tuhan berarti tidak menyerah kepada ketakutan meskipun keadaan tampak mengkhawatirkan. Menanti Tuhan berarti tidak iri kepada orang-orang yang terlihat berhasil dengan cara yang tidak benar. Menanti Tuhan berarti tetap bersukacita di dalam Dia ketika jawaban-Nya belum datang. Menanti Tuhan berarti dengan rela menyerahkan hidup kita kepada kehendak-Nya. Menanti Tuhan juga berarti menolak dikuasai amarah dan percaya bahwa Tuhan memberkati mereka yang berharap kepada-Nya. 

 

Tidak satu pun dari sikap-sikap ini muncul secara alami dari hati kita yang berdosa. Karena itu, agar kita dapat menanti dengan sukacita, bebas dari ketakutan, dan penuh kesabaran, kita membutuhkan anugerah Allah yang bekerja di dalam kita. Jika menanti adalah bagian penting dari iman, maka kemampuan untuk menanti juga merupakan buah dari anugerah Allah.

 

Dalam terang Injil, kita melihat teladan yang sempurna di dalam Kristus. Ia dengan taat menantikan waktu Bapa, bahkan sampai menanggung salib demi keselamatan umat-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus telah menjamin bahwa tidak ada satu pun janji Allah yang akan gagal. Karena Kristus telah datang untuk menebus kita, kita dapat percaya bahwa Ia juga akan datang kembali untuk menyempurnakan keselamatan kita.

 

Hari ini, ketika jalan di depan Anda terasa panjang dan jawaban belum terlihat, tetaplah berharap kepada-Nya. Tuhan yang memegang masa depan kita adalah Tuhan yang telah menyerahkan Anak-Nya bagi kita. Dan jika Ia setia memenuhi janji terbesar-Nya di dalam Kristus, kita dapat yakin bahwa Ia juga akan setia memelihara kita sampai hari ketika seluruh penantian kita berakhir dalam sukacita kekal, saat kita berjumpa muka dengan muka bersama Juruselamat kita. Di dalam Dia, penantian kita tidak pernah sia-sia.

 

Refleksi
Bacalah Galatia 6:9 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 36-39