KERINDUAN YANG DIPULIHKAN OLEH INJIL
MAZMUR 40-45
Apa yang paling kita rindukan di dalam hati pada akhirnya akan memengaruhi arah hidup dan tindakan kita.
Hati kita selalu dipenuhi oleh kerinduan. Mungkin Anda masih lajang dan merindukan pasangan hidup. Mungkin Anda memiliki pekerjaan, tetapi mendambakan karier yang lebih memuaskan. Mungkin di tengah pergumulan keluarga, Anda merindukan kedamaian dalam rumah tangga. Mungkin Anda sedang sakit dan merindukan kesehatan serta kekuatan tubuh. Mungkin Anda berharap memiliki cukup uang untuk membayar tagihan atau membeli kendaraan yang dapat digunakan. Atau mungkin Anda seorang pelajar yang mendambakan keberhasilan dalam ujian yang akan datang. Hati manusia tidak pernah bebas dari kerinduan. Dan seperti yang Alkitab nyatakan, pilihan dan tindakan kita sering kali mengikuti arah kerinduan hati kita.
Mazmur 42 menggambarkan kerinduan ini dengan sangat indah: "Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: ”Di mana Allahmu?'" (Mzm. 42:2–4). Pemazmur sedang berada dalam masa yang sulit. Ia menangis, bergumul, dan merasa jauh dari tempat ibadah serta persekutuan umat Tuhan. Namun di tengah semua itu, yang paling ia rindukan bukanlah perubahan keadaan, melainkan kehadiran Tuhan sendiri.
Sering kali kita lebih merindukan berkat Tuhan daripada Tuhan. Kita berpikir bahwa jika masalah selesai, keadaan membaik, atau keinginan kita terpenuhi, maka kita akan merasa puas. Namun, hati manusia diciptakan untuk menemukan kepuasan sejati hanya di dalam Tuhan. Tidak ada hal lain yang mampu mengisi kekosongan terdalam hati kita.
Masalahnya, dosa membuat hati kita lebih mudah mengejar hal-hal lain daripada mengejar Tuhan. Kita sering mencari identitas, keamanan, dan kebahagiaan di luar Dia. Karena itu kita membutuhkan anugerah Tuhan untuk mengubah arah kerinduan hati kita. Perenungan ini mengajak kita untuk bertanya dengan jujur: “Apakah aku sungguh merindukan Tuhan?” “Apakah aku mencari-Nya dalam doa, firman, dan ibadah?” “Apakah kehadiran-Nya lebih berharga daripada apa yang dapat diberikan-Nya?”
Kabar baiknya, Yesus datang untuk memulihkan apa yang telah dirusak oleh dosa. Dosa membuat hati kita mengejar banyak hal selain Allah, tetapi Kristus datang untuk membawa kita kembali kepada Sang Sumber kehidupan. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia bukan hanya mengampuni dosa kita, tetapi juga memperbarui hati kita agar kembali menemukan sukacita tertinggi di dalam Allah. Kerinduan akan Tuhan bukanlah sesuatu yang kita hasilkan sendiri. Itu adalah anugerah yang Tuhan kerjakan dalam hati kita. Dan semakin kita mengenal Dia, semakin kita menyadari bahwa tidak ada yang lebih indah daripada hidup dekat dengan-Nya.
Pada akhirnya, Injil tidak sekadar mengajar kita untuk mencari Allah lebih sungguh-sungguh. Injil memberitakan bahwa Allah terlebih dahulu mencari kita melalui Yesus Kristus. Karena kita telah dikasihi, diterima, dan diperdamaikan dengan Allah melalui Kristus, kini kita dapat merindukan Dia bukan sebagai orang asing yang sedang mencari jalan pulang, melainkan sebagai anak yang sedang datang kepada Bapa yang mengasihinya. Di dalam Kristus, kerinduan terdalam jiwa kita akhirnya menemukan tujuan dan kepenuhannya di dalam Allah sendiri.
Refleksi
Bacalah Matius 5:6-7 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 40-45