PENDERITAAN TIDAK PERNAH SIA-SIA DI TANGAN ALLAH
YEREMIA 35–37
Setiap hal sulit yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup umat-Nya, pada akhirnya dimaksudkan untuk membawa kebaikan dan penebusan.
Ada masa ketika penderitaan terasa begitu berat, sampai-sampai kita tidak lagi tahu harus berdoa apa selain, “Tuhan, tolonglah aku.” Ketika tubuh, keadaan, pekerjaan, keluarga, atau kehidupan terasa melelahkan, kita bisa bertanya-tanya mengapa Tuhan mengizinkan kita melewati semua ini. Penderitaan memang sulit dimengerti. Kita tahu bahwa Tuhan itu baik, kudus, bijaksana, dan penuh belas kasihan. Namun, keadaan yang kita alami terkadang sama sekali tidak terlihat baik. Dalam keadaan seperti itu, kita diperhadapkan pada sebuah pilihan: apakah kita akan berhenti percaya bahwa Tuhan itu baik, ataukah kita akan tetap percaya bahwa di balik penderitaan yang kita alami ada tujuan Tuhan yang baik dan penuh hikmat?
Kita perlu mengingat bahwa ketika Tuhan terasa jauh, Dia tetap dekat. Ketika Dia tampak diam, Dia tetap bekerja. Ketika kita tidak memahami jalan-Nya, Dia tetap memegang hidup kita. Penderitaan umat Allah merupakan salah satu tema dalam kitab Yeremia. Sekalipun keadaan yang diceritakan dalam kitab ini mungkin sangat berbeda dengan apa yang kita alami sehari-hari, kebenarannya tetap berbicara kepada kehidupan kita.
Pada masa itu, Allah sedang membawa umat-Nya melewati penderitaan yang sangat berat. Namun, penderitaan tersebut bukanlah akibat kemarahan yang tidak terkendali atau keinginan untuk membalas. Memang, umat-Nya telah memberontak kepada Tuhan dan menyembah berhala. Tuhan juga telah memperingatkan mereka bahwa dosa memiliki konsekuensi. Namun, di balik semua itu, Tuhan ingin mereka mengetahui maksud-Nya. “Mungkin kaum Yehuda akan mendengarkan segala malapetaka yang telah Kurancangkan terhadap mereka, sehingga masing-masing bertobat dari tingkah lakunya yang jahat, dan Aku mengampuni kesalahan dan dosa mereka.” (Yer. 36:3). Tujuannya bukan sekadar supaya mereka takut. Allah ingin mereka mendengar, berbalik dari jalan yang jahat, dan menerima pengampunan-Nya.
Di sinilah kita menemukan jawaban atas pertanyaan kita tentang penderitaan. Kesulitan, di tangan Tuhan, dapat menjadi alat kasih karunia-Nya. Di balik kesulitan itu ada maksud yang penuh kasih karunia. Tuhan rindu agar kita berbalik kepada-Nya, datang kepada-Nya, dan menemukan pengampunan di dalam Dia.
Sering kali kita ingin Tuhan segera mengangkat penderitaan kita. Namun, mungkin ada pekerjaan rohani yang sedang Tuhan kerjakan di dalam diri kita melalui penderitaan tersebut. Ada buah-buah rohani yang mungkin tidak akan pernah muncul melalui kehidupan yang mudah.
Karena itu, ketika kita sedang berada dalam masa yang sulit, kita tidak harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Kita boleh merasa lelah. Kita boleh menangis. Kita boleh datang kepada Tuhan dengan segala pergumulan kita. Namun, di tengah semuanya itu, kita dipanggil untuk tetap mempercayai bahwa Tuhan tetap baik dan Dia tidak pernah kehilangan kendali atas hidup kita. Penderitaan kita mungkin nyata, berat, dan menyakitkan. Tetapi penderitaan itu tidak pernah berada di luar tangan Allah.
Kita melihat hal ini dengan paling jelas dalam kehidupan Yesus. Tidak ada penderitaan yang lebih tidak adil daripada penderitaan Kristus. Dia tidak berdosa, tetapi Dia dihina, ditolak, disiksa, dan disalibkan. Dari sudut pandang manusia, salib terlihat seperti tragedi dan kekalahan. Namun, Allah sedang mengerjakan keselamatan melalui salib.
Ini bukan berarti semua penderitaan akan terasa baik. Bukan berarti kita harus berpura-pura bahwa rasa sakit tidak menyakitkan. Kita boleh menangis. Kita boleh mengakui bahwa kita lelah. Kita boleh datang kepada Allah dengan pertanyaan dan kelemahan kita. Tetapi di tengah semuanya itu, kita memiliki alasan untuk tetap percaya, Allah selalu punya rencana yang baik untuk anak-anak-Nya.
Mungkin hari ini kita tidak mengerti mengapa Tuhan mengizinkan sesuatu yang begitu sulit terjadi. Kita mungkin tidak melihat tujuan-Nya sekarang. Tetapi kita dapat percaya bahwa penderitaan kita tidak sia-sia di tangan-Nya. Di balik penderitaan kita ada Allah yang penuh kasih, yang maksud-Nya bagi kehidupan kita selalu dipenuhi oleh kasih karunia.
Refleksi
Bacalah 2 Korintus 4:16–18 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 35-37