MELIHAT TERANG ITU
Kata Filipus kepada-Nya: "Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami” — Yohanes 14:8-9
Suatu hari, di sebuah kelas seni, ketika guru berkeliling melihat lukisan-lukisan yang sedang dikerjakan anak-anak, ia bertanya kepada seorang anak laki-laki apa yang sedang ia lukis. Anak kecil itu menjawab, “Saya sedang melukis gambar Allah.” Sang guru pun berkata, “Tapi kita tidak tahu seperti apa rupa Allah.” Anak itu tersenyum lalu menjawab, “Kalau begitu, Ibu kembali saja nanti setelah saya selesai—nanti Ibu akan tahu.”
Ketika Tuhan Yesus lahir di Betlehem, Allah seakan mengambil kuas dan melukis di kanvas sejarah tentang siapa diri-Nya sebenarnya. Saat Kristus datang, semua dugaan manusia sebelumnya tentang Allah menjadi tidak lagi memadai, dan semua kesombongan manusia sesudahnya pun diruntuhkan. Yesus adalah penyataan Allah yang sempurna.
Penulis Ibrani mengungkapkan demikian: "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya" (Ibr. 1:1-2). Dengan kata lain, melalui para nabi di Perjanjian Lama, Allah menyatakan diri-Nya sedikit demi sedikit—beragam, kaya, dan mendalam. Namun di Betlehem, Allah tidak lagi hanya berbicara lewat kata-kata, melainkan hadir sebagai Pribadi. Sang Mesias yang dinantikan, Terang bagi bangsa-bangsa, datang ke dunia—dan di dalam bayi kecil itu, Allah menyatakan realitas diri-Nya sepenuhnya.
Bayangkan saja: di palungan Betlehem itu terbaring Allah sendiri, dengan menggerakkan jari-jari-Nya yang kecil. Bayi yang menyusu kepada Maria dan ditimang dalam pelukan Yusuf adalah Allah—dan Ia tetap Allah. Ia tidak berhenti menjadi Allah saat Ia menjadi manusia. Maka, tidak mengherankan jika para gembala pergi dan memberitakan apa yang telah mereka lihat. Tidak mengherankan pula jika orang-orang majus pada masa itu tersungkur dan menyembah Dia.
Yesus datang untuk menyatakan Bapa. Inkarnasi merendahkan hati kita, karena Allah ingin dikenal—bukan hanya secara intelektual, tetapi secara pribadi. Seperti para gembala, kita pun menerima kabar tentang kedatangan Kristus untuk dibagikan kepada dunia. Ketika kita memberitakan Injil tentang Yesus—Sang Mesias, Sang Anak Allah yang datang dan dikenal—kita sedang menunjuk dunia kepada Allah yang hidup.
Kiranya ketika kita memberitakan Yesus, hati dunia direndahkan untuk sujud di hadapan kemuliaan-Nya. Apakah Anda mengenal Yesus sebagai Tuhan secara pribadi? Jika ya—pujilah Allah—sebab di dalam Kristus, Anda telah melihat dan mengenal Sang Bapa.
Refleksi
Bacalah Yohanes 14:1-11 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 16-18; Lukas 17:20-37