PENGHARAPAN YANG BERDIRI DI ATAS JANJI-NYA
Yosua 16–18

 

Pengharapan di dalam Tuhan bukanlah sekadar harapan kosong atau angan-angan. Pengharapan itu adalah keyakinan yang teguh bahwa Allah pasti melakukan apa yang telah Ia janjikan.

 

Yang membuat orang percaya bangun setiap pagi bukanlah keyakinan bahwa dirinya memiliki cukup hikmat, karunia, kekuatan, atau karakter untuk membangun kehidupan yang baik bagi diri sendiri dan keluarga. Sumber pengharapan orang percaya adalah janji-janji Allah.

 

Setiap pagi kita dapat bangun dengan sukacita yang tidak tergoyahkan. Apa pun yang sedang terjadi dalam hidup, kita dapat yakin sepenuhnya bahwa Allah akan melakukan apa yang telah Ia janjikan kepada saya. Karena itu, pagi demi pagi kita perlu mengulurkan tangan dan berpegang pada janji-janji Allah, dan belajar untuk  tidak melepaskannya sampai kita tertidur kembali di malam hari.

 

Berikut ini adalah beberapa dari janji-janji yang telah Allah berikan bagi umat-Nya:

  • Ia tidak akan pernah meninggalkan atau membiarkan umat-Nya.
  • Roh-Nya tinggal di dalam umat-Nya untuk menyatakan dosa dan memberi kuasa untuk taat.
  • Ia akan mencukupi segala yang diperlukan.
  • Ia memerintah atas segala sesuatu demi kebaikan umat-Nya.
  • Ia telah mengampuni dan akan terus mengampuni dosa.
  • Ia memberi kekuatan.
  • Ia memberi kelegaan dan rest.
  • Ia sanggup mendatangkan kebaikan dari setiap kesulitan.
  • Ia tidak pernah gagal.
  • Ia memberi hikmat.
  • Ia pada akhirnya akan mengalahkan dosa dan kematian.
  • Ia menyediakan tempat bagi umat-Nya di langit yang baru dan bumi yang baru.

 

Janji-janji Allah inilah yang memberi pengharapan dan sukacita setiap hari. Karena berpegang kepada Allah berarti berpegang pada janji-janji-Nya, maka bagian Alkitab seperti Yosua 16–18 tidaklah membosankan. Ketika membaca tentang pembagian demi pembagian tanah perjanjian kepada suku-suku Israel, terlihat dengan jelas bahwa Allah sedang menepati apa yang telah Ia janjikan. Allah mencatat dan memelihara bagian ini dalam Alkitab dengan tujuan yang penuh kasih bagi umat-Nya. Melalui bagian ini terlihat bahwa Allah tidak pernah lupa, tidak pernah mengabaikan, dan tidak pernah menarik kembali janji-Nya.

 

Ia akan dengan setia melakukan tepat seperti yang telah Ia katakan. Ia akan melakukan bagi umat-Nya hal-hal yang begitu indah dan ajaib, sehingga kita tidak akan pernah bisa berkata bahwa kita pantas menerimanya atau menganggap itu sebagai hasil usaha kita sendiri.

 

Kita berdiri dalam kekaguman ketika melihat bangsa Israel berjalan dan menduduki tanah itu oleh kuasa Allah, tepat seperti yang telah Ia janjikan. Di sini kita melihat bukti nyata dari kuasa dan otoritas Allah yang berdaulat, pemerintahan dan kuasa yang tidak dapat dihentikan.

 

Namun sama pentingnya, kita juga melihat kesetiaan Allah yang tidak pernah gagal. Di dunia yang penuh dengan ketidakpastian, di mana banyak hal dan bahkan manusia bisa mengecewakan kita, sungguh menenangkan mengetahui bahwa Allah tidak pernah gagal. Suku-suku Israel akhirnya menetap di bagian mereka masing-masing di tanah perjanjian karena Allah memerintah, dan karena Ia setia.

 

Ada janji yang lebih besar daripada tanah perjanjian itu sendiri. Sejak awal, dalam Kejadian 3, Allah telah menjanjikan seorang Juruselamat yang akan datang dan mengalahkan musuh. Yesus datang karena Allah setia pada janji-Nya. Melalui hidup-Nya, kematian-Nya, dan kebangkitan-Nya, Ia telah mengalahkan dosa dan maut. Di dalam Dia, kita menemukan segala yang kita butuhkan, dan masa depan yang pasti. Allah adalah Allah yang membuat janji, dan Ia selalu menggenapinya. Kebenaran ini mengubah segalanya. Karena itu, peganglah janji-janji-Nya dan hiduplah setiap hari dengan pengharapan.

 

Refleksi
Bacalah Ibrani 11:1–3 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 16-18