ALLAH BERKUASA ATAS SEMUA PENGUASA
YEREMIA 38–41
Tuhan kita adalah Raja di atas segala raja. Setiap pemimpin manusia ada di bawah otoritas-Nya, dan tidak ada satu pun yang dapat menggagalkan kehendak-Nya.
Kita sering lupa bahwa di atas semua pemerintahan, kekuasaan, dan pemimpin dunia, ada satu Raja yang benar-benar memerintah yaitu Allah sendiri. Dia duduk di atas takhta dan berkuasa atas bangsa-bangsa. Semua pemimpin manusia memiliki kekuasaan yang terbatas dan hanya untuk waktu yang terbatas. Tetapi tidak demikian dengan Raja kita yang Mahakuasa dan kekal. Raja kita berkuasa untuk mengarahkan hati para raja manusia ke mana pun yang Dia kehendaki dan kapan pun Dia menghendakinya (lihat Ams. 21:1).
Ketika kita lupa akan hal ini, kita mudah menjadi terlalu takut terhadap kekuasaan manusia. Kita melihat korupsi, ketidakadilan, keputusan para pemimpin yang mengecewakan, atau keadaan politik yang tidak menentu, lalu hati kita menjadi gelisah. Kita mungkin mulai berpikir bahwa masa depan kita sepenuhnya bergantung pada siapa yang sedang memegang kekuasaan.
Kita juga bisa melakukan hal yang lain yakni menaruh pengharapan terlalu besar kepada pemimpin manusia. Kita berharap mereka akan memberikan keamanan, keadilan, dan masa depan yang baik bagi kita. Padahal, tidak ada pemimpin manusia yang memiliki kuasa tanpa batas. Mereka hanya memerintah untuk sementara waktu, dapat melakukan kesalahan, bahkan dapat menyalahgunakan kekuasaan.
Kita melihat hal ini dengan jelas dalam kisah Yeremia. Nebukadnezar, raja Babel, adalah salah satu raja paling kuat dan jahat dalam Perjanjian Lama. Ia menaklukkan umat Allah dan membawa mereka ke dalam pembuangan. Ia adalah penguasa yang sombong dan menginginkan manusia menyembah dirinya. Namun, sesuatu yang menarik terjadi. Ketika Yerusalem jatuh, justru raja Babel memberikan perintah agar Yeremia dilindungi: “Mengenai Yeremia, Nebukadnezar, raja Babel, telah memberi perintah dengan perantaraan Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, bunyinya: "Bawalah dan perhatikanlah dia, janganlah apa-apakan dia, melainkan haruslah kaulakukan kepadanya sesuai dengan permintaannya kepadamu!" Maka Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, beserta Nebusyazban, kepala istana, dan Nergal-Sarezer, panglima, dan semua perwira tinggi raja Babel, mengutus orang-- mereka menyuruh mengambil Yeremia dari pelataran penjagaan, lalu menyerahkannya kepada Gedalya bin Ahikam bin Safan untuk membebaskannya, supaya pulang ke rumah. Demikianlah Yeremia tinggal di tengah-tengah rakyat. (Yer. 39:11–14).
Bayangkan situasinya. Yeremia adalah nabi yang menyampaikan firman Allah kepada bangsa Yehuda, agar umat bertobat dan kembali kepada Tuhan. Namun, Yeremia sendiri akhirnya mengalami penderitaan karena kesetiaannya menyampaikan firman itu. Dan sekarang, raja Babel, orang yang sedang menghancurkan Yerusalem, justru memerintahkan agar Yeremia tidak disakiti, bahkan dijaga dan dirawat. Mengapa? Karena Allah sedang menggenapi janji-Nya.
Sebelumnya, ketika Allah memanggil Yeremia, Dia sudah berjanji: “Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN.” (Yer. 1:19). Allah sudah mengetahui bahwa pelayanan Yeremia akan sulit. Dia tahu nabi ini akan menghadapi penolakan, ancaman, dan bahaya. Namun, Allah juga sudah berjanji untuk menyertainya. Dan lihat bagaimana Allah memenuhi janji tersebut. Allah cukup berkuasa untuk memakai seorang raja yang jahat sebagai alat untuk menggenapi tujuan-Nya. Inilah yang sering kita lupakan. Kita mungkin melihat seseorang yang memiliki kuasa dan berpikir, "Orang ini yang menentukan masa depanku." Tetapi sebenarnya tidak, sebab Allah tetap memegang kendali. Seorang pemimpin dapat memiliki kekuasaan, tetapi kekuasaan itu tetap berada di bawah kedaulatan Allah. Bahkan hati seorang raja berada dalam tangan Tuhan.
Karena itu, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan yang berlebihan terhadap manusia. Kita boleh menghormati pemerintah, berdoa bagi para pemimpin, dan menjalankan tanggung jawab kita sebagai warga negara. Tetapi pengharapan dan rasa aman kita tidak boleh bergantung kepada manusia. Mengapa? Karena manusia berubah. Pemimpin datang dan pergi. Pemerintahan berganti. Kebijakan berubah. Keadaan politik berubah. Tetapi Raja kita tidak berubah.
Dan Injil memberi kita alasan yang lebih dalam untuk mempercayai kedaulatan Allah. Ketika Yesus datang ke dunia, Dia tidak datang sebagai raja yang menurut ukuran manusia memiliki kekuasaan besar. Dia lahir dalam kesederhanaan, ditolak, dikhianati, diadili, dan disalibkan. Pilatus memiliki kuasa untuk menjatuhkan hukuman. Para pemimpin agama memiliki kepentingan mereka sendiri. Orang banyak berteriak agar Yesus disalibkan. Namun, di balik semua itu, Allah sedang menggenapi rencana penebusan-Nya. Manusia mengira mereka sedang menentukan nasib Yesus, tetapi Allah sedang memakai semuanya untuk menggenapi keselamatan untuk kita.
Hari ini, jangan biarkan kekuasaan manusia membuat Anda lupa kepada kekuasaan Allah. Jangan menaruh keamananmu pada manusia yang terbatas. Hormati para pemimpin, doakan mereka, dan lakukan bagianmu dengan setia, tetapi percayakan masa depanmu kepada Kristus. Sebab tidak ada satu pun pemimpin, pemerintahan, atau keadaan yang berada di luar kendali-Nya. Bahkan ketika kita tidak mengerti apa yang sedang Allah kerjakan, kita dapat tetap percaya bahwa Raja kita sedang memerintah.
Refleksi
Bacalah 2 Samuel 24:1–25 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 38-41