ANDA BISA MENGHADAPI HARI ESOK
Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. — 1 Korintus 15:17-20
Kadang-kadang, ada saja orang yang muncul dan mengklaim bahwa kita tidak perlu percaya pada kebangkitan Yesus Kristus secara jasmani. Menurut mereka, kita masih bisa menjadi orang Kristen tanpa unsur mukjizat atau supranatural dalam iman Kristen. Namun, tanpa kebangkitan, iman Kristen bukan hanya menjadi sulit—iman Kristen menjadi tidak masuk akal.
Jika tidak ada kebangkitan, Paulus menegaskan, maka mereka yang telah meninggal dengan iman kepada Yesus benar-benar binasa, dan tidak ada harapan untuk bertemu mereka lagi. Jika kita mencoba menjalani hidup Kristen tanpa kebangkitan, maka “kita adalah orang-orang yang paling patut dikasihani.” Bahkan, Paulus berkata, "Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka "marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati" (1Kor. 15:32). Jika kita tidak percaya pada kebangkitan, maka sebenarnya kita seharusnya menerima semua slogan kosong yang sering diucapkan banyak orang (meski sedikit yang sungguh-sungguh mempercayainya): “Hidup ini tergantung bagaimana kita menjalaninya,” dan “Siapa mati dengan harta terbanyak, dialah pemenangnya.”
Meskipun ungkapan-ungkapan klise seperti itu terdengar menggoda, jauh di dalam hati kita semua menyadari bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Allah telah menaruh kekekalan dalam hati manusia (Pkh. 3:11), dan tidak ada cara untuk menghapusnya—betapapun kerasnya kita berusaha dengan skeptisisme rasional atau dengan hedonisme yang memanjakan diri. Kita tahu bahwa hidup ini seharusnya lebih dari sekadar bertahan hidup.
Kita juga tahu bahwa esok hari—dan setiap hari setelahnya—akan selalu ada kesedihan, rasa sakit, kehilangan, ketakutan, dan kekecewaan. Bagaimana mungkin seseorang sanggup menghadapinya? Tanpa kebangkitan, kita tidak bisa. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan jemaat di Efesus bahwa sebelum mereka dibawa dekat kepada Kristus, mereka hidup “tanpa pengharapan” dan “tanpa Allah di dunia ini” (Ef. 2:12). Tanpa Kristus yang bangkit, manusia sungguh tanpa harapan.
Namun Injil tidak berhenti di sana. "Kristus telah dibangkitkan." Dan ketiga kata itu mengubah segalanya, bukan hanya tentang hidup kekal, tetapi juga tentang hidup hari ini. Jika Anda mempercayai Allah dan memegang firman-Nya dengan iman, maka tidak pernah ada alasan untuk putus asa.
Melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, Anda memiliki "hidup yang penuh pengharapan” (1Pet. 1:3). Apa pun kesulitan yang menanti Anda—Anda tetap memiliki "bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu" (1Pet. 1:4). Karena Yesus hidup, pengharapan kita tidak bergantung pada keadaan, kekuatan diri, atau keberhasilan kita. "Sebab Dia hidup, ada hari esok," demikian kata lagunya. Demikian pula Anda, Anda dapat menghadapinya dengan sukacita.
Refleksi
Bacalah Efesus 2:11-22 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 19-21; Lukas 18:1-17