MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA ALLAH
Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN… TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau. – 1 Samuel 24:11, 13
Kata kerja merebut berarti mengambil sesuatu dengan paksa, dengan cara licik, atau tanpa memperhatikan kebenaran. Sejak kecil, kita sering diajarkan untuk tidak merebut milik orang lain, tetapi belajar menunggu sampai sesuatu diberikan dengan benar. Prinsip ini bukan hanya pelajaran moral bagi anak-anak, tetapi panggilan iman bagi setiap orang percaya.
Setelah Allah menolak Raja Saul, Daud diurapi sebagai raja berikutnya atas Israel. Takhta itu pada akhirnya akan menjadi miliknya ketika Saul meninggal. Namun sementara itu, Saul mengejar Daud selama bertahun-tahun dengan maksud membunuhnya. Daud tahu bahwa satu-satunya hal yang memisahkannya dari kehidupan di padang gurun dan dari duduk di atas takhta adalah kematian Saul. Dan kemudian, kesempatan itu datang—kesempatan untuk mengakhiri hidup Saul, untuk meraih keamanan, keselamatan, dan kerajaan yang telah dijanjikan kepadanya—muncul dengan sendirinya (1Sam. 24:2–4).
Namun Daud menolak membunuh Saul dan merebut takhta itu. Ia tidak mau jatuh ke dalam godaan untuk meraih sesuatu yang sebenarnya hanya Allah yang berhak memberikannya. Perjalanan Daud menuju takhta memang panjang dan berliku, tetapi ia memilih untuk tidak mengambil jalan pintas atau memaksakan kehendaknya sendiri. Ia bersedia menunggu waktu Allah dan mempercayakan dirinya pada pemeliharaan-Nya.
Bayangkan betapa beratnya hal itu! Namun inilah respons iman yang sejati—bukan dengan meraih jalan pintas untuk keluar dari kesulitan, melainkan dengan tetap melayani Allah di dalam keadaan di mana Ia menempatkan kita. Inilah jalan Daud. Dan inilah juga jalan Yesus, yang menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil, bahkan sampai kepada kematian (1Pet. 2:23). Ia menempuh salib sebelum mahkota, penderitaan sebelum kemuliaan, demi menyelamatkan kita.
Injil mengajar kita bahwa kita tidak perlu merebut keamanan, kepuasan, atau masa depan kita sendiri, karena Kristus telah menyerahkan hidup-Nya untuk menjamin hidup kita. Karena salib-Nya, kita aman di hadapan Allah. Karena kebangkitan-Nya, masa depan kita terpelihara.
Bagaimana dengan Anda dalam menangani keadaan yang tampaknya mengancam keamanan, kepuasan, atau masa depan Anda? Yesus berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33).
Biarlah tujuan hidup kita bukan untuk merebut apa yang terasa layak kita miliki, tetapi untuk mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Allah. Seperti Daud, izinkan Tuhan menata hidup kita. Kita tidak kehilangan apa pun ketika menunggu Tuhan—sebab di dalam Kristus, kita telah menerima hidup kekal dan panggilan untuk berjalan bersama-Nya sampai akhir.
Refleksi
Bacalah 1 Petrus 2:21-25 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 22-24; Lukas 18:18-43