GEMBALAKU SEPANJANG HIDUPKU
Kejadian 48–50
Jika Anda adalah anak Allah, hidup Anda berada di tangan Juruselamat yang setia menuntun dan memelihara Anda seperti seorang gembala.
Saya menyukai cara Allah, melalui firman-Nya, mengundang kita untuk melihat dan “mengintip” momen-momen yang paling intim, berharga, dan kudus dalam kehidupan manusia. Allah melakukan ini untuk mengingatkan kita akan kelemahan, keterbatasan, dan kebutuhan kita, sekaligus menunjukkan betapa besarnya berkat dari kehadiran, kuasa, dan kasih-Nya yang dicurahkan bagi kita. Salah satu momen seperti itu kita temukan di akhir kehidupan Yakub.
Yakub sudah tua, buta, dan lemah—secara harfiah berada di ambang kematian. Namun oleh rencana dan anugerah Allah, Yakub bukan hanya dipertemukan kembali dengan Yusuf, anak yang telah lama hilang dan yang ia kira tidak akan pernah ia lihat lagi, tetapi ia juga bertemu dengan cucu-cucu yang bahkan tidak ia sadari pernah ia miliki. Sulit membayangkan suasana saat itu tanpa air mata. Ini lebih dari sekadar reuni keluarga; ini adalah momen pencurahan berkat ilahi (Kej. 48).
Momen keluarga yang mengharukan ini dengan cepat berubah menjadi waktu penyembahan, doa, dan penurunan berkat. Bagi Yakub, yang kini sudah sangat tua, hanya ada satu rangkuman yang mampu menggambarkan hidupnya yang luar biasa—hidup yang penuh berkat, tetapi juga penuh pergumulan, di mana ia mengalami duka yang paling dalam dan sukacita yang paling tinggi. Inilah pernyataan terakhirnya yang seakan merangkum segalanya: “Allah … yang telah menjadi gembalaku sepanjang hidupku sampai sekarang” (Kej. 48:15).
Yakub tidak berkata, “Lihatlah betapa bijak dan suksesnya aku. Lihatlah kekayaan yang telah aku kumpulkan. Lihatlah keluarga besar yang telah aku besarkan.” Tidak. Di saat-saat terakhirnya yang rapuh di dunia ini, pikirannya tertuju pada satu hal yang selama hidupnya menjadi dasar kepastian dan pengharapannya: pemeliharaan Tuhan yang menuntunnya seperti seorang gembala. Dalam setiap masa ketakutan dan kesedihan, juga dalam setiap puncak harapan dan sukacita, inilah yang tidak pernah berubah: Tuhan adalah Gembalanya. Dan di dalam Dia, Yakub menemukan segala sesuatu yang ia butuhkan.
Hidup kita pun penuh dengan campuran dukacita dan sukacita, keberanian dan ketakutan. Namun pada akhirnya, ketika perjalanan ini selesai dan kita menoleh ke belakang, dan melihat semua lembah dan gunung yang telah kita lewati, kita akan menyadari satu hal yang selalu ada: Tuhan adalah Gembala kita dan Juruselamat kita yang setia. Kita mungkin tidak memiliki segala sesuatu yang kita inginkan, tetapi Sang Gembala telah dengan setia menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan.
Dalam Injil, kita melihat penggenapan sempurna dari pengharapan Yakub. Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik” (Yoh. 10:11). Dialah Gembala yang bukan hanya menuntun, tetapi juga menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Di dalam Kristus, kita aman—bukan hanya sepanjang hidup ini, tetapi sampai kekekalan.
Refleksi
Bacalah Mazmur 23:1–6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 48-50