ALLAH MENDENGAR SERUAN KITA
Keluaran 1–3

 

Tidak ada yang lebih menenangkan selain mengetahui bahwa Allah menjaga umat-Nya dan mendengar setiap seruan mereka.

 

Bangsa Israel di Mesir sedang mengalami penindasan yang sangat kejam. Mereka bukan hanya diperlakukan dengan kasar sebagai budak, tetapi juga menghadapi kengerian yang tak terbayangkan: setiap bayi laki-laki yang lahir dari ibu orang Ibrani harus dibunuh. Sulit membayangkan pemandangan ketika bayi demi bayi diambil paksa dari tangan ibu mereka, lalu dilemparkan ke Sungai Nil hingga mati tenggelam (Kel. 1:15–22). Inilah potret kehidupan di dunia yang telah jatuh dalam dosa, dalam kegelapan yang paling pekat. Bayangkan dukacita yang tak terelakkan di setiap rumah. Bayangkan rasa tidak berdaya yang begitu dalam. Adakah keadaan yang lebih merendahkan martabat manusia daripada ini?

 

Penting bagi kita untuk menyadari betapa jujurnya Alkitab menggambarkan kehidupan di dunia yang rusak ini. Alkitab tidak menutupi kegelapan, ketidakmanusiawian, kedukaan yang dalam, dan jeritan minta tolong yang muncul karena dosa berdiam di hati manusia. Namun, justru di tengah kegelapan itulah anugerah Allah bersinar semakin terang. Ketika kita membaca Keluaran 1–3, kita melihat dengan jelas bahwa tidak ada harapan tanpa campur tangan Allah yang penuh belas kasihan untuk mengalahkan kejahatan. Kematian anak-anak yang tidak bersalah itu menunjuk pada satu kematian lain—kematian di kayu salib. Bagian awal kitab Keluaran dengan tegas mengingatkan kita tentang kebutuhan akan Juruselamat yang mampu menaklukkan dosa dan maut untuk selamanya.

 

Di masa yang sangat gelap, ketika tampaknya tidak ada lagi harapan bagi umat Allah, secercah pengharapan mulai bersinar. Kehadiran Allah tetap ada bersama anak-anak Israel. Wajar jika mereka bertanya di mana Allah berada. Wajar jika mereka ragu apakah Allah mendengar jeritan mereka, masih mengingat janji-Nya, dan sungguh peduli untuk bertindak. Namun Allah tidak pernah meninggalkan mereka. Ia tidak menutup mata. Ia tidak melupakan janji-Nya. Ia tidak acuh tak acuh. Ia juga tidak kehilangan kuasa.

 

Apa yang tertulis dalam Keluaran 2:24–25 membawa pengharapan yang sama bagi kita hari ini seperti yang dirasakan umat Allah pada masa itu. “Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka” (Kel. 2:24–25). Allah yang bekerja bagi mereka adalah Allah yang sama yang bekerja bagi kita sekarang. Perlindungan mereka di tengah penderitaan adalah perlindungan kita juga. Dan satu-satunya pengharapan mereka di dunia yang telah rusak ini adalah pengharapan kita hari ini.

 

Umat Allah tidak menghadapi trauma ini sendirian. Mereka tidak ditinggalkan. Allah mendengar jeritan mereka. Allah mengingat janji-Nya. Allah melihat penderitaan mereka. Allah benar-benar mengetahui apa yang mereka alami. Dan pada waktu-Nya, Allah akan bertindak dengan kuasa keselamatan yang besar.

 

Hari ini, saat Anda bergumul dengan realitas hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, ingatlah kebenaran ini: Allah mendengar jeritanmu, Allah mengingatmu, Allah melihatmu, dan Allah mengenalmu. Pengharapan ini menegaskan bahwa pada saat hidup terasa paling kacau, paling gelap, dan paling sepi, Anda tidak pernah sendirian. Telinga Allah selalu peka terhadap seruan Anda, dan mata-Nya senantiasa memandang Anda dengan penuh kasih dan belas kasihan.

 

Refleksi
Bacalah 1 Yohanes 5:14 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 1-3