ALLAH SAJA DI HATI KITA
Yosua 22–24

 

Kita hidup di antara dua kenyataan: “sudah” diselamatkan oleh Kristus, tetapi “belum” pulang sepenuhnya ke rumah kekal bersama-Nya. Di antara dua titik ini, pertanyaan terbesarnya adalah: kepada siapa atau kepada apa kita akan memberikan hati kita dalam kehidupan sehari-hari?

 

Dalam kitab Yosua, bangsa Israel berada di momen rohani yang sangat penting. Mereka sudah berada di tanah yang dijanjikan Tuhan, tetapi mereka dikelilingi oleh bangsa-bangsa yang menyembah allah-allah palsu. Pertanyaannya adalah: apakah mereka akan tetap setia kepada Tuhan saja, atau perlahan-lahan menyerahkan hati mereka kepada allah-allah lain?

 

Yosua memberikan peringatan ini kepada mereka: "Kuatkanlah benar-benar hatimu dalam memelihara dan melakukan segala yang tertulis dalam kitab hukum Musa, supaya kamu jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri, dan supaya kamu jangan bergaul dengan bangsa-bangsa yang masih tinggal di antaramu itu, serta mengakui nama allah mereka dan bersumpah demi nama itu, dan beribadah atau sujud menyembah kepada mereka. Tetapi kamu harus berpaut pada TUHAN, Allahmu, seperti yang kamu lakukan sampai sekarang. Bukankah TUHAN telah menghalau bangsa-bangsa yang besar dan kuat dari depanmu, dan akan kamu ini, seorangpun tidak ada yang tahan menghadapi kamu sampai sekarang. Satu orang saja dari pada kamu dapat mengejar seribu orang, sebab TUHAN Allahmu, Dialah yang berperang bagi kamu, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu. Maka demi nyawamu, bertekunlah mengasihi TUHAN, Allahmu." (Yos. 23:6–11).

 

Yosua mengingatkan mereka bahwa Tuhan telah berulang kali menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya Allah yang benar. Tuhanlah yang memberi kekuatan kepada umat-Nya. Tuhanlah yang berperang bagi mereka. Karena itu, mereka dipanggil untuk tetap setia dan tidak menyembah allah lain.

 

Bagian ini juga menjadi peringatan bagi kita hari ini. Mungkin kita tidak menyembah berhala secara fisik, tetapi Alkitab mengajarkan bahwa berhala adalah apa pun yang mengambil tempat Tuhan di hati kita. Apa pun yang menguasai pikiran, emosi, dan keinginan kita dapat menjadi berhala—entah itu ambisi, uang, penerimaan orang lain, kenyamanan, keberhasilan, atau bahkan diri sendiri.

 

Di sinilah Injil berbicara dengan jelas. Hati manusia secara alami selalu mencari sesuatu untuk disembah. Karena itu Kristus datang untuk menebus hati yang tersesat oleh berhala. Melalui salib dan kebangkitan-Nya, Ia membebaskan manusia dari kuasa dosa dan memulihkan manusia untuk kembali mengasihi Allah yang benar. Hanya ketika hati dipuaskan oleh Kristus, berhala kehilangan kuasanya. Pertanyaannya adalah apa yang paling menguasai pikiranmu? Apa yang paling menentukan emosimu? Apa yang paling kamu kejar dalam hidupmu?

 

Kiranya hanya Tuhan saja yang memiliki hati kita sepenuhnya.

 

Refleksi
Bacalah Matius 6:19–24 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 22-24