APA YANG DITUNTUT OLEH KASIH
Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya. – 2 Yohanes 1:6
Kasih Kristen yang sejati jauh lebih dari sekadar perasaan hangat, pelukan penuh kasih sayang, atau ungkapan kasih yang lembut. Meskipun kasih memang dapat melibatkan emosi dan menggerakkan perasaan kita, kasih yang Alkitab maksud adalah yang pertama dan terutama adalah keputusan untuk bertindak.
Ketika rasul Yohanes menasihati jemaatnya untuk saling mengasihi, ia mengaitkan panggilan itu langsung dengan ketaatan kepada perintah Allah. Yesus pun berbicara tentang kasih dengan cara yang sama ketika Ia berkata, "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh. 14:15). Dunia sering mendefinisikan kasih sebagai menerima dan mengagumi, tetapi Alkitab tidak demikian. Kasih berarti taat kepada Sang Pencipta.
Seringkali, ketaatan kepada perintah Allah mengajak kita untuk memberi pelukan seperti ketika kita "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita” atau “menangislah dengan orang yang menangis!" (Rm. 12:15). Namun, di lain waktu, kasih yang tulus mungkin mengharuskan kita memberikan koreksi, teguran, atau nasihat, bukan demi kenyamanan, tetapi demi kebaikan yang sejati.
Satu kunci untuk memahami kasih ini adalah dengan melihat cara di mana Yesus memanggil para pengikut-Nya untuk saling mengasihi. "Inilah perintah-Ku," kata-Nya, "yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (Yoh. 15:12). Kemudian Dia menambahkan, "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (ay. 13). Sama seperti Yesus, panggilan untuk mengasihi adalah panggilan untuk memberi diri, untuk terus mengupayakan kebaikan orang lain, bahkan ketika hal itu menuntut pengorbanan dan risiko bagi diri sendiri.
Kita tahu bahwa Yesus menanggung salib demi membawa "sukacita yang disediakan bagi Dia" (Ibr. 12:2). Namun, sukacita itu bukanlah sesuatu yang langsung terasa. Kita hanya perlu memandang ke Getsemani dan jeritan Yesus di kayu salib untuk melihat mahalnya kasih itu. Meskipun demikian, tetap ada sukacita kekal yang menanti dan kita tidak perlu meragukan bahwa setiap kasih yang berkorban akan dipulihkan dalam kebangkitan (Luk. 14:14).
Untuk saat ini, mengasihi sering kali terasa berat. Kasih sejati menuntut kita untuk tetap melangkah ketika kita tidak ingin, dan memberi ketika kita merasa sudah tidak sanggup lagi. Namun, inilah kabar baik Injil: "Kita mengasihi karena Dia terlebih dahulu mengasihi kita" (1Yoh. 4:19). Kristus tidak hanya menjadi teladan Anda, tetapi, oleh Roh-Nya, Ia sendiri yang memampukan Anda untuk hidup dalam kasih yang berkorban.
Tanyakan pada diri Anda, siapakah yang Tuhan percayakan kepada Anda untuk dikasihi hari ini? Dan kemudian tanyakan lagi pada diri Anda, bagaimana wujud kasih itu jika Anda mengasihi mereka sesuai dengan perintah-perintah Allah? Inilah kasih yang sejati. Inilah kasih Injil. Dan inilah jalan yang kita dipanggil untuk hidupi setiap hari.
Refleksi
Bacalah 1 Yohanes 4:7-12 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 1-3; Lukas 19:1-27