KEAJAIBAN DAN MISTERI
Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus… Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. – Lukas 1:31, 34-35
Yang paling menakjubkan dari kelahiran Yesus bukanlah sekadar Ia lahir, melainkan bagaimana Ia dikandung. Ketika malaikat memberitahukan bahwa Maria—seorang perawan—akan mengandung dan melahirkan seorang Anak yang akan memerintah atas seluruh ciptaan, Maria mengajukan pertanyaan yang sangat masuk akal: “Bagaimana hal itu mungkin?” Pertanyaan ini membawa kita ke inti iman Kristen.
Bagaimana Anak ini akan dikandung? Allah sendirilah yang akan mengerjakannya. Dialah yang melakukannya. Bahasa Alkitab menyebut Maria “dinaungi” oleh kuasa Allah Yang Mahatinggi. Ungkapan ini mengingatkan kita pada kehadiran Allah yang kudus atas umat-Nya, seperti awan kemuliaan yang menaungi orang Israel (Keluaran 40:34–38). Artinya, pembuahan ini bersifat supranatural, sepenuhnya karya Allah, bukan hasil usaha manusia.
Ketika Paulus menguraikan teologi inkarnasi, ia menulis, "Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak" (Gal. 4:4–5). Paulus menegaskan bahwa Sang Penebus harus sungguh-sungguh manusia, supaya Ia dapat mewakili dan menyelamatkan manusia. Namun pada saat yang sama, Ia harus sungguh-sungguh kudus dan tanpa dosa, sebab tidak ada manusia berdosa yang dapat menebus dosa manusia lain. Karena itu, Sang Penebus haruslah Imanuel—Allah beserta kita—dan sekaligus manusia sejati.
Gereja mula-mula merenungkan kebenaran ini dengan sangat serius. Mereka mengakui keajaiban inkarnasi tanpa menghilangkan misterinya. Dari sanalah lahir pengakuan iman yang menegaskan bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia—bukan sebagian Allah, bukan hanya manusia istimewa, melainkan sepenuhnya keduanya. Para bapa rohani kita mengenali keajaiban inkarnasi, tunduk dengan hormat di hadapan misteri-Nya, dan menegaskan bahwa Yesus adalah, dan tetap, Allah sejati dan manusia sejati.
Kebenaran bahwa Allah masuk ke dalam dunia ini secara supranatural seharusnya tidak mengganggu iman kita, justru menghibur kita. Keselamatan selalu dimulai dari inisiatif Allah, bukan dari kemampuan manusia. Yesus berkata kepada Nikodemus bahwa jika seorang tidak dilahirkan kembali—oleh Roh—tidak seorang pun dapat melihat Kerajaan Allah (Yoh. 3:3). Sama seperti Maria tidak mungkin mengandung oleh kekuatannya sendiri, demikian pula kita tidak mungkin diselamatkan oleh usaha kita sendiri. Jika hari ini kita percaya kepada Kristus, itu semata-mata karena Allah yang telah bekerja lebih dahulu.
Pertanyaan “bagaimana” tentang keselamatan selalu dijawab dengan satu kalimat Injil: Allah yang mengerjakannya. Karena itu, hari ini kita menundukkan hati di hadapan keajaiban dan misteri Allah yang menjadi manusia. Dan kita juga menundukkan hati di hadapan keajaiban dan misteri Allah yang menebus kita. Keselamatan kita bukanlah perkara kecil. Keselamatan menuntut Anak Allah lahir dari seorang perawan dan mati di kayu salib bagi kita. Semua ini menyatakan betapa besar, dalam, dan mahalnya kasih karunia Allah yang dicurahkan kepada kita.
Refleksi
Bacalah Lukas 1:26-38 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 4-6; Lukas 19:28-48