PANGGILAN ALLAH
Keluaran 4–6
Di tengah dunia yang rusak, Allah memanggil dan memakai hidup kita yang rapuh untuk menyatakan kuasa-Nya yang utuh.
Musa hidup sebagai seorang buronan di padang gurun karena ia pernah membunuh seorang mandor Mesir. Namun Allah memiliki rencana penebusan bagi Musa dan bagi umat-Nya. Allah telah memilih Musa menjadi alat kuasa penebusan-Nya. Ia memanggil Musa kembali ke Mesir untuk berdiri di hadapan Firaun dan menuntut pembebasan seluruh bangsa Israel dari perbudakan (Kel. 3). Coba bayangkan Anda ada di posisi Musa. Apakah Anda akan merasa senang kembali ke Mesir? Apakah Anda akan merasa percaya diri berdiri di hadapan penguasa paling berkuasa di dunia dan menuntut agar ia membebaskan sekelompok budak yang justru menjadi tulang punggung roda perekonomian negerinya?
Dalam momen ini, Musa melakukan apa yang sering kali juga kita lakukan ketika Allah memanggil kita yakni ia membandingkan kemampuan dan keterbatasan dirinya dengan besarnya panggilan Allah. Ia menilai panggilan Allah berdasarkan apa yang ia miliki dalam dirinya sendiri. Namun Allah tidak memanggil Musa karena Musa sanggup. Allah memanggil Musa karena Allah sanggup. Tuhan menyatakan bahwa Ia menyertai Musa dan akan memperlengkapinya dengan kuasa-Nya sendiri. Allah memanggil orang-orang yang lemah dan rapuh untuk melakukan perkara besar, supaya jelas bahwa kuasa itu berasal dari Dia, bukan dari manusia. Setiap perintah Allah selalu disertai dengan anugerah-Nya yang memampukan. Dia menyertai kita, dan Dia memperlengkapi kita untuk melakukan kehendak-Nya.
Keluaran 4 mencatat bagaimana Allah menunjukkan kuasa-Nya kepada Musa yang ketakutan, untuk meyakinkannya bahwa ia akan pergi ke Mesir dan berdiri di hadapan Firaun bukan dengan kekuatannya sendiri, melainkan dengan kuasa yang dahsyat dari Raja segala raja dan Tuhan segala tuan. Allah berkata bahwa Ia bahkan dapat mengubah air Sungai Nil menjadi darah sebagai tanda kuasa-Nya di hadapan Firaun (lih. Kel. 4:9). Musa menjawab, “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara … sebab aku berat mulut dan berat lidah” (Kel. 4:10, TB). Lalu Allah berkata kepadanya bahwa Dialah yang menciptakan mulut manusia, bahwa Dialah TUHAN, dan bahwa Ia akan menyertai Musa serta mengajarinya apa yang harus dikatakannya (lih. Kel. 4:11–12). Gambaran ini begitu indah— Allah dengan sabar mengarahkan pandangan Musa dari kelemahannya kepada kuasa Allah yang besar. Namun dengan sedih, Musa tetap menjawab, “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus” (Kel. 4:13, TB).
Allah juga memanggil kita hari ini: para suami, istri, orang tua, pekerja, tetangga, sahabat, mahasiswa, yang muda maupun yang tua, untuk mewakili-Nya di dunia yang gelap ini. Ia tidak mencari orang-orang yang luar biasa, tetapi orang-orang yang mau taat. Renungkan sejenak: adakah area dalam hidup Anda di mana respons hati Anda adalah, “Tuhan, tolong utus orang lain saja”?
Bertahun-tahun kemudian, ada Pribadi lain yang dipanggil untuk membawa penebusan dari perbudakan—kali ini perbudakan kepada dosa. Nama-Nya adalah Yesus Kristus. Panggilan-Nya bukan hanya untuk berbicara, tetapi untuk mati, supaya kita yang percaya kepada-nya menerima hidup sebagai anak-anak Allah.
Di dalam kuasa anugerah penebusan-Nya, kita dimampukan untuk berkata “ya” kepada panggilan Allah. Sebab kita tahu bahwa kematian dan kebangkitan Yesus menjamin anugerah yang kita perlukan—tepat pada waktunya—untuk melakukan kehendak Allah. Di dalam Dia, orang-orang yang lemah dan penuh ketakutan dijadikan mampu, dan itu adalah kabar baik Injil bagi Anda hari ini.
Refleksi
Bacalah 2 Korintus 3:4-6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 4-6