AGAR KEMULIAAN TUHAN DIKENAL
MAZMUR 66–69

 

Hanya anugerah Tuhan yang dapat melepaskan kita dari hidup yang berpusat pada diri sendiri.

 

Secara alami, kita semua menyukai hidup yang nyaman. Kita senang ketika segala sesuatu berjalan sesuai keinginan kita. Kita menikmati saat kebutuhan kita terpenuhi, rencana kita berhasil, dan orang lain setuju dengan kita. Sebaliknya, kita mudah mengeluh ketika harus menunggu, ketika rencana berubah, ketika menghadapi kesulitan, atau ketika mengalami kelemahan dan penderitaan. Kita senang memegang kendali dan menikmati saat diri kita dihargai atau diperhatikan.

 

Di balik semua itu ada sebuah pergumulan yang terjadi di dalam hati kita: “Untuk siapa sebenarnya saya hidup? Apakah hidup saya berpusat pada kenyamanan, kesenangan, dan kemuliaan diri sendiri? Ataukah saya hidup untuk kemuliaan Tuhan?” Mazmur 67 mengarahkan perhatian kita kepada tujuan yang lebih besar daripada diri kita sendiri: "Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, Sela supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa. Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu." (Mzm. 67:1–3).

 

Sering kali kita melihat berkat Tuhan hanya dari sudut pandang pribadi. Kita bersyukur karena Tuhan menolong, melindungi, mencukupi, dan memberkati kita. Dan memang itu semua adalah anugerah-Nya. Namun Mazmur 67 menunjukkan bahwa tujuan anugerah Tuhan lebih besar daripada sekadar kesejahteraan kita. Tuhan memberkati umat-Nya supaya melalui mereka, dunia mengenal Dia. Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepada kita supaya melalui hidup kita, orang lain dapat melihat kemuliaan-Nya. Anugerah Tuhan tidak dimaksudkan untuk berhenti pada diri kita, tetapi untuk mengalir melalui kita kepada orang lain. Allah rindu agar semua orang di mana pun melihat kemuliaan-Nya dan memberikan pujian yang layak bagi-Nya.

 

Itulah sebabnya pemazmur berdoa: "Kiranya Allah memberkati kita… supaya jalan-Mu dikenal di bumi." (Mzm 67:1-2). Dengan kata lain, Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita untuk membawa kita masuk ke dalam keluarga-Nya. Dia juga memanggil kita untuk menjadi saksi-Nya. Melalui perkataan, tindakan, pekerjaan, pelayanan, dan hubungan kita dengan orang lain, Tuhan ingin menyatakan siapa diri-Nya kepada dunia. Artinya, anugerah yang menyelamatkan kita juga mengutus kita. Karena itu, hidup orang Kristen bukan hanya tentang menerima berkat dari Tuhan. Hidup orang Kristen juga tentang menjadi alat yang dipakai Tuhan agar orang lain dapat melihat keindahan Injil dan mengenal Dia.

 

Sebab, di dalam Kristus, kita menerima anugerah yang tidak layak kita terima. Melalui salib, kita bukan hanya diampuni, tetapi juga diangkat menjadi bagian dari rencana besar Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya kepada dunia. Bisa jadi sering kali kita menggunakan berkat Tuhan itu untuk memperbesar kenyamanan dan kebahagiaan diri sendiri. Namun Injil mengingatkan bahwa setiap berkat yang kita terima memiliki tujuan yang lebih mulia: agar Kristus dikenal, dikasihi, dan dimuliakan. 

 

Kabar baiknya, Allah tidak hanya memberi kita tugas dan panggilan itu, tetapi juga memberikan seluruh anugerah yang kita perlukan untuk menjalaninya. Dia memberi keberanian ketika kita takut, hikmat ketika kita tidak tahu harus berkata apa, dan kekuatan ketika kita merasa lemah.

 

Hari ini, ingatlah bahwa hidup Anda memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar mencari kenyamanan atau kebahagiaan pribadi. Tuhan telah mencurahkan anugerah-Nya kepada Anda bukan hanya untuk memberkati Anda, tetapi juga supaya melalui hidup Anda, semakin banyak orang mengenal dan memuliakan Dia.

 

Refleksi
Bacalah Matius 5:13–16 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 66-69