MELIHAT HIDUP DARI PERSPEKTIF KEKEKALAN
MAZMUR 70–73
Hidup akan terlihat sangat berbeda ketika kita memandangnya dari sudut pandang kekekalan.
Ada saat-saat ketika hidup terasa sulit dimengerti. Kita berusaha mencari tahu apa yang sedang Tuhan kerjakan, tetapi tidak menemukan jawabannya. Kita tahu Tuhan hadir, kita tahu janji-Nya benar, dan kita tahu kasih karunia-Nya nyata, tetapi keadaan yang sedang kita alami membuat semuanya terasa kabur.
Terkadang masalah datang bertubi-tubi, sementara jalan keluarnya tidak terlihat. Pada saat-saat seperti itu, kita mulai membandingkan hidup kita dengan orang lain. Kita melihat orang-orang yang tidak peduli kepada Tuhan, bahkan hidup melawan kehendak-Nya, tetapi tampaknya mereka baik-baik saja. Mereka terlihat berhasil, nyaman, dan menikmati hidup. Lalu muncul pertanyaan di dalam hati: "Mengapa hidup mereka terlihat lebih mudah daripada hidup saya?" Atau bahkan, "Apa gunanya hidup taat kepada Tuhan jika hasilnya seperti ini?"
Pergumulan seperti inilah yang dialami Asaf dalam Mazmur 73:2-3 berbunyi: "Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik." Asaf melihat kehidupan orang fasik dan mulai merasa iri. Mereka tampak sehat, makmur, dan bebas dari banyak kesulitan yang dialami orang lain. Semakin lama ia memandang keadaan itu, semakin besar kebingungannya. Bahkan ia sampai berkata: "Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah." (Mzm. 73:13). Seolah-olah Asaf berkata, "Tuhan, aku sudah percaya kepada-Mu dan berusaha hidup benar, tetapi mengapa hidup terasa begitu sulit?"
Masalah terbesar Asaf bukanlah penderitaannya. Masalah terbesarnya adalah ia mulai melihat hidup hanya dari apa yang ada di depannya saat itu. Ia lupa melihat hidup dari sudut pandang kekekalan. Selama pandangannya hanya tertuju pada keadaan saat ini, semuanya tampak tidak adil. Namun ketika ia datang ke hadirat Tuhan, perspektifnya berubah. Perhatikan bagaimana hati Asaf mulai berubah: "Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka." (Mzm. 73:16–17). Di hadapan Allah, perspektif Asaf dipulihkan. Ia tidak lagi melihat hidup hanya dari apa yang tampak saat ini, tetapi dari sudut pandang kekekalan.
Orang fasik mungkin menikmati kenyamanan dan kesenangan untuk sementara waktu, tetapi semua itu tidak akan berlangsung selamanya. Sebaliknya, anak-anak Tuhan mungkin mengalami kesulitan saat ini, tetapi mereka memiliki pengharapan yang kekal yang tidak dapat diambil oleh siapa pun. Karena itu Asaf akhirnya dapat berkata: "Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya…" (Mzm. 73:25–26). Pada akhirnya, Asaf menyadari bahwa hadiah terbesar bukanlah hidup yang mudah, melainkan Tuhan sendiri. Kekayaan, kenyamanan, kesehatan, dan kesuksesan semuanya bersifat sementara. Tetapi memiliki Tuhan adalah berkat yang tidak akan pernah hilang.
Ketika hidup terasa berat dan tidak masuk akal, jangan sampai Anda mengalami "amnesia kekekalan", melupakan bahwa masih ada realitas yang jauh lebih besar daripada apa yang sedang Anda alami hari ini. Inilah kabar baik Injil. Melalui hidup, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus, kita menerima sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kenyamanan sementara. Kita menerima Allah sendiri sebagai bagian kita untuk selama-lamanya. Di dalam Kristus, masa depan kita aman. Di dalam Kristus, penderitaan saat ini tidak pernah menjadi akhir cerita. Di dalam Kristus, kemuliaan kekal sedang menanti kita.
Apa yang sedang Anda hadapi sekarang, betapa pun beratnya, hanyalah sementara. Sebaliknya, kemuliaan yang Tuhan sediakan bagi umat-Nya akan berlangsung selamanya. Karena itu, jangan menilai kebaikan Tuhan hanya dari keadaan saat ini. Angkatlah pandangan Anda kepada kekekalan. Ingatlah bahwa Tuhan sedang memimpin Anda menuju masa depan yang penuh damai, sukacita, dan kemuliaan bersama-Nya.
Refleksi
Bacalah Yakobus 5:1–12 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 70-73