KETIKA TUHAN MENGINTERUPSI HIDUP KITA
1 SAMUEL 25–27
Alkitab penuh dengan kisah tentang “interupsi ilahi”, momen ketika Tuhan campur tangan untuk mengubah arah hidup manusia menuju jalan yang lebih baik.
Karena Allah mengasihi kita, Ia sering menginterupsi hidup kita. Ia pernah menginterupsi sejarah manusia melalui air bah, menghentikan banjir kejahatan di bumi. Ia menginterupsi Yunus yang melarikan diri dari panggilan-Nya. Ia menginterupsi pemerintahan Nebukadnezar yang dipenuhi kesombongan. Ia juga menginterupsi Paulus dalam penganiayaannya yang penuh kekerasan terhadap jemaat. Dan suatu hari nanti, Ia akan kembali menginterupsi sejarah manusia dengan menghadirkan langit dan bumi yang baru.
Tuhan juga bekerja seperti itu dalam hidup kita. Ia tidak asal mengubah rencana kita, tetapi setiap interupsi-Nya selalu lahir dari hikmat, kuasa, dan kasih-Nya. Kadang Tuhan menginterupsi hidup kita untuk mengarahkan kita ke jalan yang lebih baik. Kadang Ia melakukannya supaya kita kembali melihat kemuliaan-Nya. Sering kali juga Tuhan menginterupsi kita untuk melindungi kita dari diri kita sendiri maupun dari orang lain. Apa pun bentuknya, setiap interupsi dari Tuhan selalu baik dan penuh tujuan.
Interupsi-interupsi ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah jauh. Ia terus memperhatikan hidup kita. Ia tahu apa yang terbaik, dan pada waktu yang tepat, Ia sanggup membalikkan keadaan. Bagi kita, mungkin terasa seperti rencana yang terganggu, tetapi bagi Tuhan, itu adalah bagian dari rencana-Nya yang sempurna.
Dalam 1 Samuel 25, kita melihat salah satu contoh nyata. Daud dan orang-orangnya sedang membutuhkan makanan, lalu ia mengutus beberapa orang untuk meminta bantuan kepada Nabal, seorang yang kaya. Namun, Nabal tidak hanya menolak, tetapi ia juga bersikap kasar dan menghina. Daud pun marah. Ia hampir mengambil keputusan untuk membalas dengan kekerasan.
Tetapi Tuhan menginterupsi Daud. Melalui Abigail, seorang perempuan yang bijaksana, Tuhan menghentikan langkah Daud. Abigail datang menemui Daud, meredakan amarahnya, bahkan rela merendahkan diri dan mengambil tanggung jawab atas kesalahan suaminya yaitu Nabal. Ia juga mengingatkan Daud bahwa Tuhan sedang menahan dia dari melakukan dosa yang besar. Melalui perkataan dan sikap Abigail, hati Daud menjadi tenang. Ia sadar bahwa rencananya untuk membalas adalah salah, dan tidak pantas bagi seseorang yang dipanggil Tuhan untuk memimpin. Tuhan memakai interupsi itu untuk menahan Daud dari dosa dan membawanya kembali ke jalan yang benar.
Kita semua adalah milik Tuhan. Karena itu, Ia berhak menginterupsi hidup kita kapan pun, dan selalu dengan tujuan yang baik. Dan interupsi terbesar dalam sejarah adalah ketika Allah mengutus Yesus ke dunia. Allah masuk ke dalam sejarah manusia untuk melakukan apa yang tidak pernah bisa kita lakukan sendiri. Melalui Yesus, dosa dan maut dikalahkan, dan kita diberikan hidup yang baru, hidup dalam anugerah, sekarang dan selamanya. Di dalam Injil, interupsi Tuhan bukanlah gangguan, tetapi anugerah.
Kiranya Tuhan terus bekerja dalam hidup kita, bahkan lewat interupsi-interupsi yang tidak kita pahami, sampai pada hari ketika Ia memperbarui segala sesuatu.
Refleksi
Bacalah Efesus 2:1-10 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 25-27