MENGAPA DOSA TIDAK BISA DIANGGAP SEPELE?
Kejadian 4-7

 

Penebusan adalah tempat di mana murka Allah terhadap dosa dan kasih karunia-Nya kepada orang berdosa bertemu.

 

Kita sangat mudah meremehkan dosa kita sendiri. Kita juga sering lebih cepat terganggu oleh dosa orang lain daripada dosa di dalam hati kita. Kita cepat membela diri, merasa benar, sementara bersikap menghakimi dan menghukum kesalahan orang lain. Namun saat kita menyepelekan dosa, kita tidak lagi menghargai, mencari, atau merayakan kasih karunia Allah yang mengampuni, memulihkan, mengubahkan, dan membebaskan. Jika kita terus membenarkan diri saat ditegur, atau berlindung di balik alasan terbaik yang pernah kita miliki, kita tidak akan pernah sungguh mengalami kasih karunia penebusan—kasih karunia yang mengampuni, memulihkan, dan membebaskan.

 

Ada satu bagian Alkitab yang dengan sangat kuat menggambarkan betapa seriusnya dosa. Ini adalah perkataan Sang Pencipta yang berdukacita melihat apa yang telah dosa lakukan terhadap dunia dan manusia yang diciptakan-Nya menurut gambar-Nya sendiri.

 

“Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN: ‘Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi… sebab Aku menyesal bahwa Aku telah menjadikan mereka.’” (Kej. 6:5–7)

 

Betapa mengerikannya penjelasan tentang dosa ini: “segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata.” Karena hati adalah pusat kendali hidup manusia, maka setiap motivasi hati yang dikuasai dosa berarti dosa telah menguasai seluruh hidup manusia secara total dan tak terhindarkan. Dosa bukanlah sesuatu yang ringan. Ia meresap, mengikat, dan menghancurkan. Betapa dahsyatnya dosa itu. Dosa bukan hanya perbuatan, melainkan kuasa yang hidup dalam hati setiap manusia yang pernah bernapas.

 

Berhentilah sejenak dan biarkan hati kita berduka. Biarkan hati kita gentar melihat betapa seriusnya murka Allah terhadap dosa, murka yang begitu dalam sampai Ia memutuskan untuk melenyapkan umat manusia dari muka bumi. Hari ini, ingatlah betapa seriusnya dosa di mata Pribadi yang sepenuhnya Kudus yaitu Yesus—satu-satunya manusia yang pernah hidup tanpa dosa.

 

Akan sangat menyedihkan jika kisah Alkitab berhenti di sini. Namun kata pertama setelah Kejadian 6:7 adalah “tetapi.” Penghakiman bukanlah akhir dari cerita. Allah tidak meremehkan dosa, dan Ia juga tidak membiarkan manusia tanpa harapan. Melalui Nuh, Ia menyatakan belas kasihan-Nya, membentuk umat perjanjian, dan melalui merekalah Ia akan menghadirkan Sang Penebus.

 

Dalam kisah Nuh, murka Allah terhadap dosa dan belas kasihan Allah kepada orang berdosa bertemu. Di sinilah kita mulai melihat bayangan salib yang akan datang. Inilah benih Injil itu: Murka Allah terhadap dosa itulah yang membawa Yesus ke salib. Dan kasih karunia Allah kepada orang berdosalah yang juga menuntun Yesus untuk rela disalibkan. Di kayu salib Yesus Kristus, murka Allah terhadap dosa dan kasih karunia-Nya kepada orang berdosa bertemu—dan sampai hari ini, itulah kabar terbaik yang pernah ada.

 

Refleksi
Bacalah Lukas 18:9-14 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini? 
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 4-7