MEMBANGUN MENARA DIRI SENDIRI
Kejadian 8-11
Berhala terbesar manusia adalah diri sendiri. Kesombongan manusia selalu berdiri berlawanan dengan kemuliaan dan rencana Allah.
Kisah Menara Babel adalah salah satu cerita Alkitab yang paling dikenal, tetapi juga salah satu yang paling sering disalahpahami: “Juga kata mereka: ‘Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi’” (Kej. 11:4). Banyak orang pernah mendengar tentang Menara Babel, tetapi hanya sedikit yang sungguh memahami arti penting peristiwa ini dalam kisah besar Alkitab dan maknanya bagi kehidupan kita hari ini.
Sejak semula, kehendak Sang Pencipta adalah agar manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya hidup dalam kerendahan hati, ketaatan, dan bergantung kepada-Nya, serta beranak cucu dan memenuhi bumi. Namun, dosa membuat manusia lapar akan kemandirian, memuaskan diri sendiri, dan mengejar kemuliaan pribadi. Kita lebih mengejar kemuliaan diri daripada kemuliaan Allah, dan memilih menjalani hidup menurut kehendak kita sendiri, bukan menurut rencana dan tujuan Allah.
Inilah yang mendorong pembangunan menara itu. Menara Babel bukan sekadar bangunan tinggi, melainkan monumen kesombongan manusia, pernyataan ketidakbergantungan kepada Allah, dan pengganti rencana Allah yang berfirman “beranakcuculah dan bertambah banyak dan penuhilah bumi” (Kej. 1:28). Kesombongan manusia adalah musuh dari kemuliaan dan rencana Allah.
Karena itu Allah bertindak dengan mengacaukan bahasa mereka, sehingga mereka tidak dapat saling memahami dan akhirnya terserak. Allah menunjukkan bahwa Dialah Tuhan atas segala bangsa, dan kehendak-Nya tidak dapat digantikan oleh ambisi manusia. Ia seakan menyatakan, “Akulah Tuhan. Aku yang berdaulat; hanya satu Kerajaan dan kehendak-Ku yang akan terjadi.”
Ketika kita membaca kisah ini, ada pengakuan jujur yang perlu kita buat: kita pun masih sering membangun menara-menara kita sendiri. Bagaimana caranya?
Setiap kali kita mengambil pujian atas hal-hal yang sebenarnya hanya Allah yang sanggup kerjakan, kita sedang membangun menara bagi kemuliaan diri. Setiap kali kita melanggar batas moral Allah sambil meyakinkan diri bahwa kita lebih tahu daripada Dia, kita sedang meninggikan diri di atas Allah. Setiap kali kita bertindak seolah-olah kita sudah “lulus” dan tidak lagi membutuhkan anugerah keselamatan, pengampunan, dan pembaruan dari Tuhan, kita sedang membangun menara kesalehan palsu. Setiap kali kita hidup seakan-akan hidup ini, talenta, dan sumber daya yang kita miliki adalah milik kita sendiri untuk dipakai sesuka hati, kita sedang memuliakan diri, bukan Allah. Mungkin dalam banyak hal kita justru lebih mirip orang-orang dalam Kejadian 11 daripada yang kita sadari?
Namun kisah Babel bukan hanya kisah tentang hukuman Allah, melainkan juga tentang anugerah keselamatan-Nya. Kesombongan yang mendorong manusia membangun menara itu adalah kesombongan yang sama yang membuat salib Yesus harus didirikan. Karena masalah terbesar manusia bukan hanya dosa yang dia perbuat, tetapi dari dirinya sendiri yang ingin hidup tanpa Allah. Itulah sebabnya, manusia tidak hanya perlu diselamatkan dari dosanya, tetapi juga diselamatkan dari dirinya sendiri oleh salib Kristus.
Di kayu salib, Yesus Kristus meruntuhkan menara kesombongan manusia. Ia mati bukan bagi mereka yang ingin memuliakan diri, tetapi bagi mereka yang bersedia direndahkan dan diselamatkan oleh anugerah. Salib adalah kebalikan dari Menara Babel: di Babel manusia naik untuk mencari nama, di salib Anak Allah turun untuk memberikan nama keselamatan bagi manusia.
Anugerah itu masih kita butuhkan hari ini, sama seperti manusia membutuhkannya pada masa Kejadian 11. Injil memanggil kita bukan untuk membangun menara yang lebih tinggi, tetapi untuk hidup rendah hati di bawah salib, bagi kemuliaan Allah semata.
Refleksi
Bacalah Mazmur 53:1-6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 8-11