BERSERU KEPADA TUHAN
AYUB 29–31

 

Ketika masa kegelapan datang, jangan habiskan hari-hari Anda dengan menggerutu kepada diri sendiri atau mengeluh kepada orang lain, melainkan berserulah kepada Tuhan.

 

Ayub menggambarkan dengan sangat jujur bagaimana rasanya berada dalam penderitaan yang begitu dalam: “Oleh sebab itu jiwaku hancur dalam diriku; hari-hari kesengsaraan mencekam aku. Pada waktu malam tulang-tulangku seperti digerogoti, dan rasa nyeri yang menusuk tak kunjung berhenti. Oleh kekerasan yang tak terlawan koyaklah pakaianku dan menggelambir sekelilingku seperti kemeja. Ia telah menghempaskan aku ke dalam lumpur, dan aku sudah menyerupai debu dan abu. Aku berseru minta tolong kepada-Mu, tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri menanti, tetapi Engkau tidak menghiraukan aku. Engkau menjadi kejam terhadap aku, Engkau memusuhi aku dengan kekuatan tangan-Mu. Engkau mengangkat aku ke atas angin, melayangkan aku dan menghancurkan aku di dalam angin ribut. Ya, aku tahu: Engkau membawa aku kepada maut, ke tempat segala yang hidup dihimpunkan. Sesungguhnya, masakan orang tidak akan mengulurkan tangannya kepada yang rebah, jikalau ia dalam kecelakaannya tidak ada penolongnya? Bukankah aku menangis karena orang yang mengalami hari kesukaran? Bukankah susah hatiku karena orang miskin? Tetapi, ketika aku mengharapkan yang baik, maka kejahatanlah yang datang; ketika aku menantikan terang, maka kegelapanlah yang datang. Batinku bergelora dan tak kunjung diam, hari-hari kesengsaraan telah melanda diriku. Dengan sedih, dengan tidak terhibur, aku berkeliaran; aku berdiri di tengah-tengah jemaah sambil berteriak minta tolong. Aku telah menjadi saudara bagi serigala, dan kawan bagi burung unta. Kulitku menjadi hitam dan mengelupas dari tubuhku, tulang-tulangku mengering karena demam; permainan kecapiku menjadi ratapan, dan tiupan serulingku menyerupai suara orang menangis.” (Ayb. 30:16–31)

 

Ayub tidak menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan Tuhan. Ia jujur tentang pergumulannya, tentang kecewa, sedih, bingung, dan lelah yang ia rasakan. Tetapi perhatikan satu hal penting: Ayub membawa semua itu kepada Tuhan.

 

Sering kali ketika masalah datang, respons pertama kita adalah mengeluh, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Kita terus memikirkan penderitaan kita, mengulanginya dalam hati, atau membicarakannya tanpa henti. Namun keluhan yang terus dipelihara hanya membuat hati semakin pahit dan lelah. Keluhan tidak mengubah keadaan, dan juga tidak menguatkan jiwa kita untuk bertahan. Ketika keluhan menjadi bahasa utama hati kita, kita sedang mengganti bahasa doa dengan bahasa kepahitan. 

 

Sebaliknya, doa membawa kita kembali kepada Tuhan. Doa bukan berarti kita menyangkal bahwa hidup sedang berat. Doa justru mengakui bahwa kita tidak sanggup mengendalikan semuanya. Dalam doa, kita datang kepada Tuhan yang berkuasa dan memohon pertolongan-Nya. Saat kita berdoa, hati kita diingatkan kembali bahwa Tuhan tetap ada, tetap mendengar, dan tetap dekat, bahkan ketika keadaan terasa gelap. Doa mengarahkan mata kita kembali kepada Allah yang hadir, bahkan ketika kegelapan membuat kehadiran-Nya terasa samar. 

 

Dalam terang Injil, kita melihat sesuatu yang lebih besar daripada pengalaman Ayub. Di kayu salib, Yesus Kristus sendiri masuk ke dalam kegelapan terdalam. Ia berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Kristus merasakan penderitaan yang paling dalam agar kita yang percaya kepada-Nya tidak pernah benar-benar ditinggalkan oleh Allah. Karena itu, ketika Tuhan terasa jauh, jangan berhenti berdoa. Ketika jawaban belum datang, jangan berhenti berseru. Ketika harapan tampak redup, jangan menggantikan doa dengan keluhan. Anugerah Allah tidak diukur dari seberapa terang keadaan kita, melainkan dari kesetiaan Kristus yang telah menebus kita. 

 

Kiranya Tuhan memberi kita anugerah supaya di tengah masa-masa paling sulit, kita tidak tenggelam dalam keluhan dan kepahitan, tetapi belajar membawa setiap air mata, pertanyaan, dan jeritan hati kita kepada-Nya. Karena pengharapan sejati kita tidak ditemukan dalam keadaan yang berubah, melainkan di dalam Tuhan yang tetap setia.

 

Refleksi
Bacalah Filipi 4:4–13 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 29-31