MENANTIKAN TUHAN
Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN! – Mazmur 27:14
Apakah Anda suka menunggu? Kebanyakan dari kita, jika jujur, akan menjawab dengan tegas, “Tidak!” Duduk dan menunggu seseorang memundurkan mobilnya dari tempat parkir saja sudah cukup untuk mengingatkan kita betapa tidak sabarnya diri kita sebenarnya. Biasanya, kita ingin kebutuhan kita dipenuhi sesuai dengan jadwal kita sendiri, dan kehidupan modern mengajarkan bahwa tuntutan seperti itu wajar. Namun, ketidaksabaran ini menjadi masalah besar bagi orang Kristen—sebab jika kita sulit menunggu, kita akan merasa sangat sulit untuk berjalan hidup oleh iman.
Dalam Alkitab, iman sering kali dinyatakan melalui kesediaan menantikan janji-janji Allah (lihat, misalnya, Rm. 4). Janji Allah yang disebut sebagai “janji-janji yang berharga dan yang sangat besar” dari Allah (2Pet. 1:4) hampir tidak pernah disertai dengan kepastian waktu tertentu. Dan di sinilah letak perbedaannya. Kebanyakan dari kita mampu menunggu jika kita tahu bahwa kita hanya perlu menunggu sampai Jumat depan, atau sampai jam lima sore, atau sampai waktu tertentu. Tetapi menunggu seperti itu bukanlah menunggu dalam iman.
Alkitab tidak menasihati kita untuk menunggu pada jadwal tertentu, melainkan menunggu pada kesetiaan Pribadi yang berjanji—yaitu Allah sendiri.
Ketika kita membutuhkan kekuatan—untuk melawan dosa, untuk bertahan dalam penderitaan, untuk tetap menunjukkan kebaikan kepada rekan kerja yang menyusahkan—dan kita datang kepada Firman Tuhan untuk dikuatkan, kita menemukan janji ini: “Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru” (Yes. 40:31).
Demikian pula, pada saat kelahiran gereja, perkataan Kristus kepada para murid adalah supaya mereka menunggu di Yerusalem “akan janji Bapa” (Kis. 1:4). Dengan cara yang sama, kita pun dipanggil untuk menunggu “penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” (Tit. 2:13). Alkitab memanggil kita untuk menunggu, berjaga-jaga, berdoa, menantikan, dan siap sedia—bukan dengan mengetahui kepastian waktunya, melainkan dengan keyakinan bahwa Allah setia.
Anda mungkin tahu seperti apa rasanya ketika karakter diuji di ruang tunggu iman. Ingatlah bahwa iman yang sejati selalu melibatkan penantian, dan penantian itu menuntut kita untuk berharap bukan pada keadaan di luar diri kita, melainkan pada Allah kita yang setia—Dia yang melihat umat-Nya dan yang "bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia" (Yes. 64:4).
Biarlah kebenaran ini menumbuhkan kesabaran di dalam diri Anda. Sebab di tengah penantian hidup ini, kita menantikan Tuhan yang akan datang kembali untuk membawa kita masuk ke dalam kemuliaan hidup yang kekal. Dan Injil mengingatkan kita: kita mampu menunggu, karena Allah sudah lebih dahulu bertindak—Ia mengaruniakan Anak-Nya bagi kita, dan Ia pasti akan menepati semua janji-Nya.
Refleksi
Bacalah Roma 4:13-25 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 7-9; Lukas 20:1-26