KRISTUS MEMIMPIN HIDUP KITA
PENGKHOTBAH 9-12
Iman yang sejati tidak dimulai dengan keyakinan pada diri sendiri, tetapi dengan pengakuan bahwa kita membutuhkan hikmat Allah setiap hari.
Habakuk 2:4 berkata, "Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya." Namun, seperti apakah hidup oleh iman itu? Bagaimana hidup oleh iman dijalani oleh seorang lajang, pasangan suami istri, remaja, orang tua, atau lansia? Bagaimana iman memengaruhi cara kita bekerja, menggunakan uang, mengambil keputusan, menghadapi penderitaan, dan menjalani kehidupan sehari-hari?
Kitab Pengkhotbah memberikan jawaban yang sangat jujur sekaligus penuh hikmat. Setelah mengamati berbagai kenyataan hidup "di bawah matahari", kitab ini ditutup dengan sebuah kesimpulan yang sangat penting: "Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat." (Pkh. 12:13–14)
Inilah dasar kehidupan yang beriman. Hidup oleh iman dimulai ketika kita mengakui bahwa kita tidak memiliki hikmat yang cukup untuk menjalani hidup menurut kehendak Allah. Karena dosa, kita cenderung mengandalkan pengertian sendiri. Padahal, tanpa hikmat dari Tuhan, kita mudah tersesat oleh keinginan hati dan penilaian kita yang terbatas.
Penulis Pengkhotbah menggambarkan hikmat seperti kusa (galah penggiring) yang menjaga agar hewan tetap berjalan di jalan yang benar, dan seperti paku yang tertancap kuat, tempat sesuatu dapat digantung dengan aman (Pkh. 12:12). Demikian pula, hikmat Allah menuntun arah hidup kita dan menjadi tempat yang kokoh untuk menopang setiap keputusan, nilai, dan tindakan kita.
Karena itu, kehidupan yang beriman memiliki dua ciri utama. Pertama, hidup oleh iman dibentuk oleh takut akan Allah. Takut akan Allah bukan berarti hidup dalam ketakutan yang menjauh dari-Nya, melainkan hidup dengan rasa hormat, kagum, dan tunduk kepada-Nya. Kita tidak membiarkan uang, kenyamanan, kesuksesan, penerimaan manusia, atau keinginan pribadi menguasai hati kita. Allah sajalah yang menjadi pusat hidup.
Kedua, hidup oleh iman dinyatakan melalui ketaatan kepada firman Tuhan. Iman bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan terlihat dalam kesediaan untuk menaati Allah, bahkan ketika jalan-Nya berbeda dengan keinginan atau logika kita.
Namun Injil menunjukkan bahwa kita tidak mampu hidup seperti itu dengan kekuatan sendiri. Masalah terbesar kita bukan kurangnya informasi, melainkan hati yang telah diperbudak oleh dosa. Kita tahu apa yang benar, tetapi sering kali tidak memiliki kerelaan untuk melakukannya. Kabar baiknya, Yesus Kristus adalah Hikmat Allah yang sempurna. Ia hidup dalam ketaatan penuh kepada Bapa, sesuatu yang gagal kita lakukan. Di kayu salib, Kristus menanggung hukuman atas seluruh kebodohan, pemberontakan, dan ketidaktaatan kita. Melalui kebangkitan-Nya, Ia memberikan hidup yang baru dan mencurahkan Roh Kudus agar kita dimampukan untuk hidup dalam hikmat dan ketaatan kepada Allah.
Karena itu, hidup oleh iman bukanlah usaha untuk memperoleh keselamatan, tetapi respons syukur dari orang yang telah diselamatkan oleh kasih karunia. Kita menaati Allah bukan supaya Dia menerima kita, melainkan karena di dalam Kristus kita telah diterima sebagai anak-anak-Nya.
Hari ini, datanglah kepada Kristus, Sang Gembala Agung. Akuilah bahwa Anda membutuhkan hikmat-Nya. Mintalah Roh Kudus menuntun setiap langkahmu, sehingga hidupmu semakin dibentuk oleh takut akan Allah dan ketaatan kepada firman-Nya. Sebab hanya ketika Kristus memimpin hidup kita, kita dapat benar-benar hidup oleh iman dan memuliakan Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Refleksi
Bacalah Amsal 1:1-7 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 9-12