GAMBARAN KASIH KRISTUS KEPADA UMAT-NYA
KIDUNG AGUNG 1-8

 

Salah satu kasih karunia dari Tuhan adalah kasih. Bukan hanya kasih-Nya yang sempurna kepada kita, tetapi juga indahnya kasih yang bisa dinikmati dalam sebuah pernikahan.

 

Allah bukan hanya mengaruniakan kasih-Nya yang sempurna kepada kita, tetapi juga menciptakan kasih dalam pernikahan sebagai salah satu pemberian-Nya yang indah. Kasih sejati bukan saja dipengaruhi oleh emosi dan ketertarikan sesaat. Kasih sejati adalah komitmen yang terus bertumbuh, kesetiaan yang bertahan melewati waktu, dan pengorbanan yang rela memberikan diri bagi orang yang dikasihi. Intinya, kasih sejati bukan hanya soal perasaan sesaat, tetapi tentang komitmen yang bertumbuh melalui waktu.

 

Karena itu Allah memberikan satu kitab khusus dalam Alkitab, yaitu Kidung Agung, untuk melukiskan keindahan kasih antara seorang suami dan istri. Kitab ini menunjukkan bahwa Allah menghargai sukacita, gairah, kelembutan, dan komitmen dalam pernikahan. Allah menciptakan dunia yang penuh dengan keindahan untuk dinikmati, dan Ia juga memberikan pancaindra agar manusia dapat menikmati segala pemberian-Nya dengan penuh syukur.

 

Namun, seperti semua pemberian Allah, kasih juga telah dirusak oleh dosa. Sebagian orang menganggap bahwa kenikmatan jasmani adalah sesuatu yang rendah dan kurang rohani. Sebaliknya, sebagian yang lain justru menjadikan kenikmatan itu sebagai tujuan hidup dan memisahkannya dari kehendak Allah. Inilah bukti bahwa manusia tidak mampu menikmati kasih sebagaimana Allah merancangnya tanpa terlebih dahulu dipulihkan oleh anugerah-Nya.

 

Di sinilah Injil berbicara dengan indah. Kidung Agung bukan hanya berbicara tentang pernikahan manusia. Pernikahan itu sendiri adalah bayangan yang menunjuk kepada hubungan yang lebih mulia, yaitu hubungan Kristus dengan gereja-Nya. Seperti mempelai pria dalam Kidung Agung yang berkata, "Engkau telah mendebarkan (merebut) hatiku," demikian pula Kristus mengasihi umat-Nya dengan kasih yang penuh sukacita dan pengorbanan. Bukan karena kita sempurna atau layak dikasihi, tetapi karena kasih karunia-Nya. Di kayu salib, Yesus memberikan diri-Nya bagi mempelai-Nya. Ia menanggung hukuman dosa kita supaya kita dipulihkan dan dapat menikmati hubungan yang benar dengan Allah. Melalui Injil, hati yang telah rusak oleh dosa diperbarui sehingga kita dapat mengasihi sebagaimana Allah lebih dahulu mengasihi kita.

 

Karena itu, baik kita sudah menikah maupun belum, panggilan kita sama: menikmati setiap pemberian Allah dengan penuh syukur dan menggunakannya sesuai dengan rancangan-Nya. Hanya ketika kita mengalami kasih Kristus terlebih dahulu, kita dapat mengasihi orang lain dengan kasih yang benar.

 

Refleksi
Bacalah Efesus 5:22-23 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 1-8