DARAH ANAK DOMBA
Keluaran 10–12
Kisah Alkitab yang begitu radikal dan mengejutkan ini menunjukkan bahwa pengharapan Israel di Mesir dan juga pengharapan kita hari ini, diletakkan bukan pada kekuatan manusia, melainkan pada pundak Sang Anak Domba.
Alkitab mengatakan bahwa jalan-jalan Allah bukanlah jalan-jalan kita dan pikiran-Nya bukanlah pikiran kita (Yes. 55:8). Itu bukan sekadar pernyataan biasa—itu kebenaran yang sangat dalam. Tidak ada manusia, secerdas, setajam, atau punya pengalaman apa pun, yang sanggup menulis kisah besar Alkitab. Cara Allah bekerja dan alat yang Ia pilih terus-menerus mengejutkan kita. Rasul Paulus mengungkapkannya demikian: “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1 Kor. 1:27–29, TB).
Allah dengan sengaja bekerja dengan cara yang melampaui pemahaman manusia dan melampaui penjelasan logis untuk meruntuhkan kesombongan manusia. Ia berkarya dengan cara yang membuat kita berhenti sejenak dan berkata, “Hanya Allah yang bisa melakukan ini.” Dengan demikian, kemuliaan tidak pernah jatuh kepada manusia, melainkan hanya kepada Allah.
Demikianlah kisah pembebasan terakhir umat pilihan Allah dari Mesir. Sekalipun Firaun terus melawan di tengah teror tulah-tulah yang menimpa negerinya, Allah tidak menjadi lelah dan tidak berpaling dari umat-Nya. Ia akan membebaskan mereka. Tidak ada satu pun yang dapat menghalangi kehendak ilahi dan kudus dari Raja segala raja dan Tuhan segala tuan—bahkan penguasa paling kuat di bumi sekalipun. Namun, cara Allah membebaskan umat-Nya sungguh tak terduga. Bukan dengan pedang, bukan dengan pasukan, melainkan dengan darah seekor anak domba.
Bangsa Israel diselamatkan dari maut dan dibebaskan dari perbudakan melalui darah yang dioleskan pada ambang pintu rumah mereka. Darah yang dioleskan pada ambang pintu rumah orang Israel menjadi tanda bahwa Allah akan melewati rumah itu. Allah memilih seekor anak domba yang rendah namun tak bercacat untuk memberikan keselamatan dari maut dan pembebasan menuju hidup yang baru bagi umat perjanjian-Nya (Kel. 12:3–7). Allah memilih sesuatu yang rendah dan sederhana untuk menyatakan kuasa-Nya yang agung.
Kisah ini menunjuk jauh ke depan—kepada Injil. Pengharapan kita hari ini juga bertumpu pada Anak Domba. Yesus tidak datang sebagai jenderal penakluk atau raja politik. Ia datang sebagai Anak Domba yang dikorbankan. Ia adalah Anak Domba yang tak bercacat, yang darah-Nya dicurahkan untuk keselamatan semua orang yang percaya kepada-Nya.
Melalui darah-Nya, kita dibebaskan dari perbudakan dosa dan maut, dan dibawa masuk ke dalam hidup yang baru sebagai anak-anak Allah. Apa yang tidak pernah terpikirkan oleh dunia—bahwa kematian bisa menjadi pintu menuju hidup—itulah yang Allah kerjakan melalui salib Kristus. Inilah kisah yang radikal. Inilah Injil. Dan ini bukan hanya kabar yang mengejutkan, tetapi kabar yang sangat baik.
Refleksi
Bacalah Wahyu 5:6-14 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 10-12