DI TENGAH JALAN YANG SULIT
Keluaran 13–15
Apa yang tampak sulit dan kacau di mata kita sering kali adalah panggung di mana hikmat dan anugerah Juruselamat yang berdaulat sedang dikerjakan.
Ketika pertama kali memasuki pelayanan, seorang pendeta harus mengakui bahwa ia datang dengan rasa percaya diri yang berlebihan. Ia lulus dari seminari dengan prestasi yang baik, bahkan menerima penghargaan dan memiliki sejumlah pencapaian akademis. Ia merasa siap menaklukkan dunia bagi Injil. Namun, apa yang ia anggap sebagai keyakinan pada firman Allah dan kuasa Injil ternyata lebih banyak diwarnai oleh kesombongan dan kepercayaan pada diri sendiri.
Ia dan istrinya meninggalkan seminari, bergabung dengan sebuah gereja, lalu mulai melayani dalam sebuah pelayanan yang menyediakan tempat tinggal sekaligus ruang bagi orang-orang untuk mengenal kekristenan. Itulah ladang pelayanan pertama mereka.
Sebagai pasangan muda, mereka tinggal bersama beberapa laki-laki muda. Ada yang baru keluar dari penjara, ada pula yang berada di sana karena hidup mereka telah tersesat. Ini jelas bukan jemaat yang ia bayangkan setelah semua pendidikan dan pembentukan di seminari yang ia jalani. Tidak satu pun dari mereka tertarik mengajukan pertanyaan-pertanyaan teologis yang menurutnya sudah sangat siap untuk ia jawab.
Suatu malam, seorang pria yang pendidikannya tidak lebih dari kelas lima berkata kepadanya, “Pak, kalau kamu tidak berhenti bicara seperti ‘pengacara’, saya akan berhenti bicara sama kamu.” Yang dimaksud dengan “bahasa pengacara” adalah penggunaan kata-kata besar dan rumit. Malam itu, pendeta itu duduk di tepi tempat tidur dan bergumul di hadapan Tuhan, mempertanyakan mengapa ia ditempatkan untuk melayani orang-orang tersebut. Ia merasa tidak tahu bagaimana menjangkau mereka, tidak mengerti mereka, dan tidak tahu bagaimana menolong mereka melihat apa yang benar-benar mereka butuhkan.
Pada saat itu, ia barulah mengerti bahwa Allah menempatkannya di tempat itu, bersama orang-orang tersebut, bukan hanya demi mereka—tetapi juga demi dirinya sendiri. Allah sedang membawanya ke ujung kemampuan dirinya. Allah sedang membongkar kesombongan, ketakutan, dan keputusasaan, lalu menggantikannya dengan kepercayaan penuh kepada-Nya. Ia berada di tempat itu bukan karena kapasitasnya, melainkan karena hikmat dan anugerah Allah.
Inilah juga alasan mengapa Allah memilih menempatkan bangsa Israel di antara Laut Teberau dan pasukan Mesir yang sedang mendekat (Kel. 14). Sebenarnya ada jalan yang lebih singkat menuju negeri orang Filistin, tetapi dalam hikmat dan anugerah-Nya, Allah tahu bahwa umat-Nya belum siap menghadapi peperangan yang akan mereka jumpai di sana. Allah tahu mereka bisa panik dan kembali lari ke perbudakan di Mesir. Karena itu, Allah menuntun mereka ke tepi Laut Teberau. Bertentangan dengan apa yang mungkin mereka rasakan—dan yang sering kali juga kita rasakan—Allah tidak sedang menghukum atau meninggalkan umat-Nya. Ia sedang bertindak sebagai Bapa yang bijaksana dan penuh kasih.
Melalui peristiwa itu, Allah menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya dengan membelah laut, memberikan pembebasan bagi Israel sekaligus kekalahan bagi Mesir. Rencana Allah bagi umat-Nya adalah menghancurkan kesombongan dan ketakutan mereka, lalu menanamkan keyakinan iman yang teguh kepada Allah Penebus mereka. Tidak ada satu pun kesulitan yang dialami umat Allah yang berada di luar pemerintahan-Nya yang penuh hikmat dan anugerah.
Allah membawa kita ke tempat-tempat yang sulit bukan untuk menyakiti kita, melainkan untuk mengerjakan sesuatu bagi kita dan di dalam kita. Dalam terang Injil, kita melihat bahwa jalan tersulit justru berpuncak pada salib Kristus. Melalui penderitaan yang paling kelam, Allah menghadirkan keselamatan yang paling mulia. Yesus berjalan ke jalan buntu—salib—supaya kita memperoleh jalan menuju hidup. Hari ini, marilah kita bersyukur. Di tangan Allah, momen-momen sulit bukan tanda penolakan, melainkan alat penebusan dan pembaruan anugerah.
Refleksi
Bacalah Yohanes 15:1-11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 13-15