SUNGGUH-SUNGGUH MENYEMBAH TUHAN
YESAYA 1-4
Allah tidak hanya menginginkan kehadiran kita dalam ibadah, tetapi hati yang sungguh-sungguh mengasihi dan menaati-Nya.
Gereja adalah salah satu anugerah yang Tuhan berikan kepada umat-Nya. Di sanalah kita mendengarkan firman Tuhan, menaikkan pujian, berdoa bersama, memberi dengan sukacita, dan bertumbuh di dalam persekutuan dengan sesama orang percaya. Semua itu adalah sarana kasih karunia yang Allah pakai untuk membangun iman kita. Namun, ada sebuah bahaya yang perlu kita waspadai. Kita bisa saja rajin beribadah, aktif melayani, memberi persembahan, bahkan memiliki pengetahuan Alkitab yang baik, tetapi hati kita sebenarnya jauh dari Tuhan.
Inilah yang disebut sebagai formalisme, ketika kehidupan rohani hanya terlihat baik di luar, tetapi tidak disertai kasih dan ketaatan yang lahir dari hati. Secara lahiriah seseorang tampak religius, tetapi hidupnya tidak lagi dipimpin oleh hubungan yang nyata dengan Allah.
Melalui nabi Yesaya, Tuhan menegur umat Israel dengan sangat keras. “Dengarlah firman Tuhan, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora! ”Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” firman Tuhan; ”Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya.” (Yes. 1:10-14).
Semua itu adalah ibadah yang memang diperintahkan oleh Tuhan. Namun, Allah menolak semuanya karena hati mereka tidak lagi mengasihi-Nya. Mereka tetap menjalankan ritual keagamaan, tetapi kehidupan mereka dipenuhi dosa dan ketidaktaatan.
Teguran ini juga berlaku bagi kita. Kehadiran kita di gereja setiap minggu bukanlah ukuran utama kedewasaan rohani. Demikian pula pelayanan, persembahan, atau pengetahuan teologi tidak otomatis berarti kita hidup dekat dengan Tuhan. Allah melihat lebih dalam daripada apa yang tampak di mata manusia. Ia melihat hati kita.
Karena hati adalah pusat kehidupan, apa yang memenuhi hati akan terlihat dalam cara kita hidup setiap hari. Tidak ada gunanya menyanyikan lagu tentang kasih karunia pada hari Minggu jika sepanjang minggu kita hidup tanpa kasih, mudah marah, menyimpan kepahitan, atau mengabaikan kehendak Tuhan dalam pekerjaan, keluarga, dan relasi kita. Oleh sebab itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehidupan saya sepanjang minggu selaras dengan pengakuan iman yang saya nyatakan pada hari Minggu? Apakah saya hanya menjalankan kebiasaan aktivitas rohani, atau saya sungguh mengasihi Kristus dengan segenap hati?
Kabar baiknya, Yesus datang bukan hanya untuk memperbaiki perilaku kita, tetapi untuk memperbarui hati kita. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Ia mengampuni kegagalan kita dan memberikan Roh Kudus yang bekerja mengubah hati kita agar semakin mengasihi Allah dan hidup dalam ketaatan kepada-Nya. Oleh karena itu, marilah kita datang kepada Tuhan bukan hanya dengan tubuh yang hadir di dalam ibadah, tetapi juga dengan hati yang sungguh-sungguh rindu menyembah dan mengikuti-Nya.
Refleksi
Bacalah 1 Yohanes 3:16–24 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 1-4