BAHAYA MENJADI SUAM-SUAM KUKU
Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang,.. Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. – Wahyu 3:15−17, 20
Laodikia adalah kota yang kaya dan maju. Karena itu, warganya hidup dengan penuh percaya diri dan terbiasa dengan kemewahan. Kota ini juga terkenal dengan domba-domba yang menghasilkan wol hitam yang lembut—bahan mahal yang dipakai untuk membuat pakaian mewah. Selain itu, Laodikia dikenal karena sekolah kedokterannya. Dari sana, mereka mengembangkan salep khusus yang dipakai untuk mengobati beberapa masalah pada mata.
Di lingkungan seperti itulah jemaat Laodikia hidup—di sebuah kota yang kaya, terampil dalam urusan bisnis, dan dikenal karena fasilitas medisnya. Tuhan menempatkan umat-Nya di pusat kehidupan kota itu supaya mereka dapat mencerminkan terang-Nya di tengah keberagaman kehidupan Laodikia. Namun, jemaat justru terbawa oleh budaya sekitarnya. Mereka kehilangan ketajaman rohani, menjadi kompromi, dan tidak menyadari kondisi mereka sendiri. Alih-alih mencerminkan karakter Sang Juruselamat, mereka malah mencerminkan nilai-nilai masyarakat di sekitar mereka.
Tidak mengherankan, ketika Anak Manusia memandang gereja Laodikia, Ia tidak mendapati sesuatu yang menyenangkan hati-Nya. Kekayaan telah membuat mereka merasa seolah-olah mereka bisa bergantung pada diri sendiri. Mereka mengenakan pakaian yang indah, tetapi tidak menyadari bahwa secara rohani mereka sebenarnya telanjang. Kota mereka mungkin memiliki para tabib yang bisa memulihkan penglihatan fisik, tetapi jemaatnya sendiri justru buta secara rohani.
Namun apakah Kristus akan meninggalkan mereka? Belum. Penilaian-Nya terhadap mereka memang buruk, kondisi mereka tampak tidak baik, dan peringatannya sangat serius. Tetapi Ia tidak mengusir mereka. Sebaliknya, Ia justru mengundang mereka untuk makan bersama: “Jika seseorang mendengar suara-Ku dan membuka pintu, Aku akan masuk kepadanya dan makan bersama dia, dan ia bersama Aku.” Kata “makan” yang digunakan di sini adalah deipneō, yang bukan sekadar menunjuk pada makan singkat, tetapi pada sebuah jamuan malam yang penuh kehangatan—momen duduk bersama dalam waktu yang lama sebagai ungkapan kedekatan, sukacita, persahabatan, dan persekutuan.
Pernahkah Anda merasa bangga dengan kekayaan dan pencapaian Anda? Apakah Anda lebih sering memikirkan hal-hal materi daripada bagaimana Tuhan menilai hidup Anda? Hati-hatilah! Iman yang suam-suam kuku—yang hanya menjalankan rutinitas rohani tetapi tetap memelihara cinta pada materialisme dan menempatkan Kristus pada jarak aman—sesungguhnya itu bukan iman sama sekali.
Namun, ada juga penghiburan bagi kita: Tuhan masih mengetuk. Ia mengundang Anda masuk ke dalam persekutuan yang lebih dalam bersama-Nya—kedekatan yang akan kembali menyalakan hati Anda, sampai Anda bisa bernyanyi lagi:
Tak ku hiraukan, pujian fana,
Hanya Engkaulah pusaka baka.
Raja di surga, Engkau bagiku,
Harta abadi, bahagia penuh!
— Kaulah Ya Tuhan Surya Hidupku, Mary Elizabeth Byrne
Refleksi
Bacalah Wahyu 3:14−22 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 1-3; Lukas 5:1-16