BUTA DARI LAHIR
Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: "Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?" – Yohanes 9:40
Ironi yang besar sekaligus menyedihkan dari peristiwa yang dikisahkan Yohanes dalam pasal 9 yaitu ketika seorang yang buta akhirnya menerima penglihatannya, tetapi banyak orang yang sejak awal memiliki dua mata yang berfungsi justru memperlihatkan bahwa mereka hidup dalam kebutaan rohani.
Yohanes mencatat peristiwa ini karena peristiwa ini adalah salah satu tanda yang telah "dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya" (Yoh. 20:31). Seperti Yesus memberi penglihatan kepada orang yang buta itu, demikian juga Yesus dapat memberi kita hidup. Sama halnya seperti Ia membuka mata orang itu secara fisik, Yesus juga dapat membuka mata rohani setiap orang.
Yesus harus membuka mata rohani setiap orang, karena Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa sejak lahir manusia sudah buta secara rohani. Kita mungkin merasa sudah melihat kebenaran, tetapi ketika kita menolak Yesus, hal itu menunjukkan bahwa kita sebenarnya masih buta secara rohani — dan kebutaan rohani itulah yang paling menentukan untuk kekekalan. Dosa telah merampas penglihatan rohani kita, dan kita tidak mungkin memulihkannya sendiri, sama seperti pengemis buta itu yang tidak bisa menyembuhkan matanya sendiri. Sebelum Firman Tuhan membuat kita sadar akan keadaan kita yang sebenarnya, sebelum mata rohani kita dibukakan untuk melihat siapa diri kita sesungguhnya, dan telinga rohani kita dibangunkan untuk mendengar kebenaran — pesan tentang keselamatan tidak akan berarti apa-apa bagi kita.
Ketika Alkitab mengatakan bahwa kita buta, itu menunjukkan betapa parahnya dosa telah meresap ke seluruh hidup kita. Dosa mempengaruhi perasaan, kehendak, kasih, dan cara kita berpikir. Tidak ada satu pun bagian hidup kita yang luput dari kerusakan akibat dosa.
Kita tidak boleh tertipu oleh pemikiran bahwa Alkitab tidak benar-benar bermaksud seperti yang dikatakannya — seolah-olah manusia tidak sepenuhnya buta secara rohani. Teman dan tetangga yang kita datangi untuk membagikan Injil bukan sedang ada di antara percaya dan tidak percaya, antara melihat dan buta. Mereka benar-benar tidak melihat kebenaran, bahkan mereka pun tidak tahu apa artinya melihat kebenaran itu. Karena itulah mereka membutuhkan campur tangan ilahi — sama seperti dulu kita juga membutuhkannya.
Secara alami, kisah Injil tidak masuk akal bagi kita. Sejak lahir, kita tuli terhadap panggilan-Nya dan buta terhadap keindahan-Nya. Hanya Tuhan yang dapat membuka mata kita dan Dialah satu-satunya yang dapat membuka mata kita. Betapa besar anugerah dan alasan untuk bersyukur bahwa sekarang kita bisa berkata bersama dengan pengemis buta itu, "aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat" (Yoh. 9:25). Dan betapa besar dorongannya bagi kita untuk menceritakan apa yang Allah dapat lakukan, karena tidak ada sukacita yang lebih besar daripada berbicara tentang Yesus lalu melihat Dia membuka mata orang yang buta rohani untuk mengenal siapa Dia dan apa yang telah Dia lakukan.
Refleksi
Bacalah Matius 9:27−31 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?
Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 4-6; Lukas 5:17-39