BETAPA SERIUSNYA DOSA
RATAPAN 1–2

 

Meyakinkan diri sendiri bahwa dosa tidak memiliki konsekuensi adalah sebuah penipuan rohani yang berbahaya.

 

Kitab Ratapan dimulai dengan kesedihan yang mendalam: “Ah, betapa terpencilnya kota itu, yang dahulu ramai! Laksana seorang jandalah ia, yang dahulu agung di antara bangsa-bangsa. Yang dahulu ratu di antara kota-kota, sekarang menjadi jajahan. Pada malam hari tersedu-sedu ia menangis, air matanya bercucuran di pipi; dari semua kekasihnya, tak ada seorangpun yang menghibur dia. Semua temannya mengkhianatinya, mereka menjadi seterunya. Yehuda telah ditinggalkan penduduknya karena sengsara dan karena perbudakan yang berat; ia tinggal di tengah-tengah bangsa-bangsa, namun tidak mendapat ketenteraman; siapa saja yang menyerang dapat memasukinya pada saat ia terdesak. Jalan-jalan ke Sion diliputi dukacita, karena pengunjung-pengunjung perayaan tiada; sunyi senyaplah segala pintu gerbangnya, berkeluh kesahlah imam-imamnya; bersedih pedih dara-daranya; dan dia sendiri pilu hatinya.  Lawan-lawan menguasainya, seteru-seterunya berbahagia. Sungguh, TUHAN membuatnya merana, karena banyak pelanggarannya; kanak-kanaknya berjalan di depan lawan sebagai tawanan. Lenyaplah dari puteri Sion segala kemuliaannya; pemimpin-pemimpinnya bagaikan rusa yang tidak menemukan padang rumput; mereka berjalan tanpa daya di depan yang mengejarnya.” (Rat. 1:1–6).

 

Mengapa pesan yang begitu menyedihkan tentang konsekuensi dosa Israel ini dicatat dan dipelihara bagi kita? Apa yang seharusnya kita pelajari dari gambaran penuh ratapan tentang apa yang terjadi kepada umat Allah karena mereka mengkhianati Tuhan, memberontak terhadap perintah-Nya, dan menyerahkan hati mereka kepada penyembahan allah-allah lain? Bagian ini dipelihara bagi kita karena kita memiliki masalah rohani yang sama dengan umat Allah pada zaman dahulu. Seperti mereka, kita cenderung mengecilkan, mengabaikan, atau bahkan menyangkal konsekuensi dosa.

 

Kita sering berkata kepada diri sendiri, “Tidak apa-apa.” Kita berpikir bahwa gosip tidak akan merusak hubungan kita. Kita berpikir bahwa hawa nafsu tidak akan menghancurkan pernikahan kita. Kita berpikir bahwa kerakusan tidak akan memengaruhi kesehatan kita. Kita berpikir bahwa cinta akan akan tidak akan membawa kita kepada masalah. Atau kita merasa bahwa ketidaksabaran dan kemarahan kita tidak akan melukai anak-anak kita. Kita bahkan dapat meyakinkan diri bahwa kasih karunia berarti Allah menoleransi dosa kita.

 

Dosa selalu memiliki akibat. Dosa merusak hubungan kita dengan Allah, merusak diri kita, melukai orang lain, dan membawa kehancuran. Karena itu, Ratapan 1 menjadi panggilan dari Bapa yang penuh kasih supaya kita berhenti membenarkan dosa dan mulai melihat dosa sebagaimana Allah melihatnya. Kita perlu memeriksa hati kita. Kita perlu mengakui dosa dan tipu daya hati kita, lalu kembali kepada Allah dalam pertobatan dan ketaatan.

 

Namun perenungan ini tidak berhenti pada rasa bersalah. Inilah yang membuat kita membutuhkan Injil. Kita tidak hanya membutuhkan nasihat untuk “berbuat lebih baik”. Kita membutuhkan seorang Juruselamat, karena kita tidak mampu menyelamatkan diri kita dari dosa. Kita membutuhkan Kristus yang menanggung hukuman dosa kita dan memberikan kepada kita pengampunan yang tidak layak kita terima. Di kayu salib, kita melihat dengan jelas dua hal sekaligus: betapa seriusnya dosa dan betapa besarnya kasih karunia Allah. Dosa kita begitu serius sehingga Kristus harus mati. Tetapi kasih karunia Allah begitu besar sehingga Ia rela memberikan Anak-Nya bagi orang berdosa seperti kita.

 

Karena itu, kasih karunia bukanlah izin untuk terus hidup dalam dosa. Kasih karunia memanggil kita keluar dari dosa. Kasih karunia mengingatkan kita bahwa dosa memiliki konsekuensi, tetapi sekaligus memberikan pengampunan dan kuasa untuk berkata “tidak” kepada dosa. Mungkin ada dosa yang selama ini kita anggap kecil. Kita sudah terlalu terbiasa dengannya sehingga tidak lagi merasa terganggu. Mungkin kita berkata, “Semua orang juga melakukannya.” Atau, “Ini tidak terlalu serius.” Tetapi hari ini firman Tuhan mengajak kita berhenti sejenak dan melihat kembali hati kita.

 

Datanglah kepada Kristus. Akuilah dosa kita. Jangan bersembunyi dari Allah. Allah yang menyatakan keseriusan dosa adalah Allah yang juga menyediakan pengampunan di dalam Kristus. Kita tidak perlu menyangkal dosa untuk memiliki pengharapan. Justru karena kita mengakui betapa seriusnya dosa, kita dapat semakin menghargai betapa besar kasih karunia Kristus. Bawalah dosa kita kepada Kristus, sebab di dalam Dia ada pengampunan, pemulihan, dan kuasa untuk hidup dalam pertobatan.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 136:1–26 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Ratapan 1-2