ALLAH YANG MEMBERI MAKAN UMAT-NYA
Keluaran 16–18

 

Makanan jasmani yang Allah sediakan bagi kita adalah gambaran nyata dan pengingat tentang bagaimana Ia juga memelihara kita secara rohani melalui anugerah-Nya.

 

Kita perlu bersyukur karena Allah tidak menetapkan kita untuk bertahan hidup dengan satu jenis sayuran hijau yang hambar, melainkan memberkati kita dengan kenikmatan rasa melalui keberagaman buah-buahan, sayuran, dan daging.  Ada begitu banyak variasi rasa, tekstur, dan aroma. Dunia rempah-rempah, masing-masing menambahkan lapisan rasa yang menarik pada makanan, mengingatkan kita bahwa apa yang Allah sediakan sungguh kaya dan indah.

 

Mengolah apa yang Allah berikan menjadi hidangan yang lezat dan menyajikannya dengan indah di atas piring adalah sebuah sukacita tersendiri. Makanan mencerminkan kemurahan dan kasih Allah. Melalui hal sederhana ini, kita diingatkan bahwa Allah menghendaki kita untuk hidup, menikmati, dan—justru melalui kenikmatan itu—memuliakan Dia yang telah melimpahkan kebaikan-Nya kepada kita. Semua aroma, keindahan, dan kelimpahan ini berasal dari pikiran Allah sendiri. Hal ini mengingatkan kita bahwa Allah bukan hanya mulia dalam kuasa penciptaan-Nya, tetapi juga mulia dalam kemurahan kasih-Nya. Bahkan ketika kita mengalami “lupa rohani,” Allah tetap setia memberi makanan yang baik.

 

Keluaran 16 memberi kita gambaran yang jelas tentang betapa besar komitmen Allah untuk memelihara umat-Nya dengan menyediakan makanan jasmani yang dibutuhkan umat-Nya. Bangsa Israel, yang sedang berada di padang gurun, diliputi ketakutan. Mereka bertanya-tanya dari mana mereka akan mendapatkan makanan. Mereka bersungut-sungut kepada Musa dan berkata bahwa lebih baik mereka mati di Mesir, karena setidaknya di sana mereka pernah menikmati makanan yang berlimpah.

 

Allah mendengar keluhan mereka dan menjawab: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hujan roti dari langit bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungutnya tiap-tiap hari secukupnya, supaya Aku mencoba mereka, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak. Dan pada hari keenam mereka akan menyediakan apa yang mereka bawa itu, dan itulah yang menjadi dua kali lipat dari apa yang dipungut mereka tiap-tiap hari.” (Kel. 16:4–5).

 

Bayangkan betapa mulianya pemeliharaan Allah ini. Bayangkan roti yang muncul di tanah setiap pagi seperti embun. Ini adalah gambaran anugerah yang memelihara dan yang diberikan bahkan kepada umat yang tidak setia dan tidak puas. Mereka adalah orang-orang yang terus merindukan kembali ke perbudakan, padahal mereka sudah dibebaskan oleh anugerah Allah dan sedang dipelihara oleh kasih-Nya yang murah hati. Mereka menikmati pemberian itu bukan karena mereka layak atau pantas, melainkan karena mereka adalah umat pilihan-Nya.

 

Peristiwa ini menunjuk kepada pemeliharaan Allah yang jauh lebih besar yakni roti sejati dari surga. Yesus adalah roti yang turun dari surga. Manna (roti dari surga) di padang gurun adalah bayangan dari Roti Sejati yang Allah berikan bagi dunia. Yesus berkata: “Bukan Musa yang memberi kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberi kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia… Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi.” (Yoh. 6:32–35).

 

Di dalam Kristus saja, lapar rohani kita dipuaskan. Ia adalah roti yang turun dari surga, yang memberi hidup dan kekuatan bagi jiwa kita. Dalam Injil, kita diingatkan bahwa kita dipelihara dan dikenyangkan bukan karena jasa atau kebaikan kita, melainkan karena anugerah Allah yang setia dan murah hati.

 

Refleksi
Bacalah Yohanes 6:32-35 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 16-18