BETAPA KUDUS ALLAH
YESAYA 5-8

 

Allah menyatakan kekudusan-Nya yang sempurna bukan hanya untuk memperkenalkan siapa Dia, tetapi juga untuk menyatakan siapa diri kita sebenarnya.

 

Nabi Yesaya mengajak kita menyaksikan salah satu penglihatan yang paling agung di dalam Alkitab. Ia melihat Tuhan bertakhta di atas takhta yang tinggi dan menjulang. Ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Di sekeliling-Nya berdiri para serafim yang terus-menerus berseru: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!" (Yes. 6:3).

 

Suara pujian itu mengguncangkan dasar Bait Suci hingga dipenuhi asap. Di hadapan kemuliaan dan kekudusan Allah yang begitu sempurna, Yesaya tidak memuji dirinya karena mendapat penglihatan yang luar biasa. Sebaliknya, ia berseru: "Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam." (Yes.6:5). Kemudian seorang serafim mengambil bara dari mezbah dan menyentuh bibir Yesaya sambil berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni." (Yes. 6:7).

 

Inilah salah satu gambaran Injil yang paling indah di dalam Perjanjian Lama. Ketika Yesaya melihat kekudusan Allah, ia tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia tidak mencari alasan untuk membenarkan diri. Semakin jelas ia melihat Allah, semakin jelas pula ia melihat betapa dalam dosa yang ada di dalam dirinya.

 

Demikian pula seharusnya kekudusan Allah bekerja di dalam hati kita. Kekudusan-Nya bukan dimaksudkan untuk membuat kita sekadar kagum, tetapi untuk menolong kita melihat keadaan diri kita yang sebenarnya. Selama kita hanya membandingkan diri dengan orang lain, kita mungkin merasa cukup baik. Namun ketika kita memandang Allah yang kudus, kita menyadari bahwa tidak seorang pun dapat berdiri benar di hadapan-Nya berdasarkan usahanya sendiri.

 

Namun penglihatan Yesaya tidak berakhir pada penghukuman, melainkan pada anugerah. Allah sendiri mengambil inisiatif untuk menghapus dosanya. Bara dari mezbah menjadi lambang bahwa pengampunan datang dari Allah, bukan dari usaha manusia.

 

Inilah kabar baik Injil. Bara dari mezbah itu menunjuk kepada pengorbanan yang sempurna di dalam Yesus Kristus. Di kayu salib, Yesus menanggung hukuman yang seharusnya kita terima agar setiap orang yang percaya kepada-Nya memperoleh pengampunan dan diperdamaikan dengan Allah. Kekudusan Allah tidak berubah, tetapi melalui Kristus, orang berdosa dapat datang dengan penuh keberanian karena dosanya telah dihapuskan.

 

Ketika kita sungguh memahami kekudusan Allah, kita tidak akan meremehkan dosa. Sebaliknya, kita akan semakin menghargai besarnya kasih karunia Kristus. Semakin tinggi pandangan kita tentang kekudusan Allah, semakin dalam rasa syukur kita atas salib Kristus.

 

Hari ini, arahkanlah pandangan Anda kepada Allah yang kudus dan biarkan terang kekudusan-Nya menyatakan keadaan hati Anda yang sebenarnya. Jangan menutupi dosa atau membenarkannya, tetapi datanglah kepada Yesus Kristus dengan pertobatan dan iman. Di dalam Dia tersedia pengampunan yang sempurna, anugerah yang memulihkan, dan kuasa yang mengubahkan. Sebab hanya ketika kita menyadari betapa kudusnya Allah dan betapa berdosanya kita, barulah kita dapat memahami betapa mulianya kasih karunia Kristus yang telah menyelamatkan kita.

 

Refleksi
Bacalah 1 Petrus 1:13-21 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 5-8