ANUGERAH YANG MENGUBAHKAN

Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini. – Titus 2:11−12

 

Kita dipanggil untuk menjalani hidup dari dalam ke luar.

 

Ketika Paulus menulis kepada Titus, ia tidak sekadar memberikan buku panduan tentang cara mengajarkan orang untuk hidup dengan benar sesuai peran mereka dalam masyarakat. Memang benar, kitab Titus berisi banyak perintah tentang bagaimana orang Kristen seharusnya hidup,  dan karena itulah, jika kita tidak berhati-hati, kita bisa dengan mudah membacanya sebagai buku panduan moral belaka. Bahkan ketika membaca seluruh Firman Tuhan, kita pun bisa tergelincir dan memperlakukannya seperti daftar perintah yang harus kita taati agar memperoleh atau mempertahankan kasih karunia Allah. Kita perlu terus diingatkan bahwa seluruh isi Alkitab, termasuk surat Paulus ini, pertama-tama menunjukkan kepada kita anugerah Allah, dan kemudian menunjukkan kepada mereka yang telah memahami anugerah itu bagaimana hidup dari dalam ke luar.

 

Kisah Alkitab adalah kisah tentang Allah, yang menciptakan manusia dan menempatkan mereka dalam hadirat-Nya di Taman Eden. Mereka diberi hak istimewa untuk menikmati kehadiran-Nya dan segala sesuatu yang telah Ia ciptakan. Namun mereka memberontak terhadap Allah — dan kita pun, mengikuti jejak nenek moyang kita itu, telah menolak pemerintahan-Nya, mengadopsi cara pandang yang keliru tentang dunia, dan tidak mencari Dia. Karena natur dosa kita, kita menjalani hidup dengan cara yang terbalik. Tetapi ketika kita percaya kepada Kristus, hidup kita yang terbalik itu dipulihkan. Kita mulai berdiri dengan arah yang benar, dan kita dipersatukan kembali oleh kuasa Yesus. Dari sana kita dipanggil untuk menjalani hidup dari dalam ke luar, agar apa yang telah Allah kerjakan di dalam diri kita oleh anugerah-Nya menjadi tenaga penggerak bagi apa yang kini Ia ingin kerjakan melalui kita untuk kemuliaan-Nya.

 

Paulus berkata bahwa “kasih karunia Allah telah datang dan membawa keselamatan.” Dalam Titus 3:7, ia mengingatkan kita yang percaya kepada Kristus bahwa kita telah “dibuat benar oleh kasih karunia-Nya,” dan sekarang kita adalah “ahli waris yang memiliki harapan hidup kekal.” Lalu di ayat 8, Paulus menekankan bahwa kebenaran Injil ini harus terus diajarkan, supaya “mereka yang percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha untuk melakukan pekerjaan yang baik. Urutan ini sangat penting untuk dipahami. Bukan berarti kita harus melakukan pekerjaan baik agar diterima oleh Allah. Bukan. Tetapi justru karena kita sudah percaya kepada Allah dan diterima melalui pribadi dan karya Anak-Nya, kita kemudian mengabdikan diri untuk melakukan pekerjaan baik. Pekerjaan baik itu bukan syarat untuk diterima, pekerjaan baik itu mengalir dari kasih karunia-Nya, dan terinspirasi oleh kasih karunia-Nya. Kasih karunia Allah-lah yang melatih kita untuk hidup bagi Allah yang penuh kasih karunia.

 

Apakah Anda rindu untuk hidup berbeda dari dunia? Apakah Anda ingin menjalani hidup yang layak di hadapan Allah, hidup yang memuliakan Dia dalam segala hal yang Anda lakukan? Jika ya, itu adalah tanda bahwa kasih karunia-Nya sedang bekerja di dalam diri Anda. Ingat, apa yang Anda lakukan tidak pernah menjadi alasan Anda diselamatkan. Di dalam Kristus, kasih karunia-Nya sudah datang dan sudah dicurahkan atas Anda. Jadi, jangan terlalu terfokus pada apa yang harus Anda lakukan untuk Allah, tetapi fokuslah pada apa yang sudah Allah lakukan untuk mengubah hidup Anda melalui kasih karunia-Nya. Saat Anda hidup dengan kesadaran itu, hati dan pikiran Anda akan perlahan dilatih untuk hidup dengan cara yang menyenangkan Dia.

 

Refleksi

Bacalah Titus 2:11-3:2 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

 

1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 7-9; Lukas 6:1-26