HARI PENGHAKIMAN TUHAN
ZEFANYA 1 - HAGAI 2

 

Akan tiba hari ketika Allah akan menghukum kejahatan dan memulihkan segala sesuatu yang telah rusak.

 

Dalam kesibukan hidup sehari-hari, kita mudah menjalani hidup seolah-olah keadaan akan selalu seperti sekarang dan tidak akan pernah berakhir. Kita memiliki pekerjaan, keluarga, pelayanan, rencana, dan berbagai kesibukan lainnya. Semuanya bisa membuat kita lupa bahwa hidup di dunia ini memiliki batas. Kita memang tidak tahu kapan hidup kita di dunia akan berakhir. Tetapi kita tahu bahwa akan ada hari ketika segala sesuatu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

 

Ketika kita hidup dengan kesadaran bahwa ada kekekalan dan penghakiman terakhir, cara kita menjalani hidup akan berubah. Hidup ini bukanlah tujuan akhir. Apa yang kita lakukan hari ini memiliki makna karena suatu hari kita akan berdiri di hadapan Tuhan.

 

Realitas tentang penghakiman Tuhan adalah tema yang terus muncul dalam kitab para nabi, dan salah satu kitab yang sangat kuat membicarakannya adalah Zefanya. Ungkapan yang berulang kali digunakan Zefanya untuk berbicara tentang hari tersebut adalah “hari TUHAN”: “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH! Sebab hari TUHAN sudah dekat. Sungguh TUHAN telah menyediakan perjamuan korban dan telah menguduskan para undangan-Nya. ‘Pada hari perjamuan korban TUHAN itu Aku akan menghukum para pemuka, para anak-anak raja dan semua orang yang memakai pakaian asing. Aku akan menghukum pada hari itu semua orang yang melompati ambang pintu dan memenuhi istana tuan mereka dengan kekerasan dan penipuan.’” (Zef. 1:7-9).

 

Pikirkan baik-baik apa arti dari peringatan ini. Kita hidup di dalam dunia yang memiliki standar moral dan berada di bawah pemerintahan Allah yang kudus. Allah yang kudus memiliki kuasa dan otoritas untuk menentukan bagi kita mana yang benar dan mana yang salah, mana yang benar dan mana yang keliru, serta mana yang bijaksana dan mana yang bodoh.

 

Karena kita hidup dalam dunia yang memiliki standar moral dan diperintah oleh Allah yang kudus, segala sesuatu yang kita lakukan memiliki makna moral. Apa yang kita inginkan, pikirkan, pilih, katakan, dan lakukan semuanya penting. Kita dapat hidup dalam ketaatan kepada perintah-perintah Allah yang kudus, atau kita memilih untuk membuat aturan kita sendiri dan mengikuti keinginan hati kita. Apa yang berlaku bagi bangsa Israel juga berlaku bagi kita: kita semua akan menghadapi hari ketika kita harus mempertanggungjawabkan bagaimana kita telah menjalani hidup. Karena itu, kita perlu menjalani hidup dengan sungguh-sungguh. Jangan hidup seolah-olah keputusan kita tidak memiliki konsekuensi kekal.

 

Namun, kita juga tidak perlu hidup dalam ketakutan tanpa pengharapan. Mengapa? Karena Yesus telah menjalani kehidupan yang sempurna menggantikan kita dan menanggung hukuman atas seluruh dosa kita. Karena itu, pada hari pertanggungjawaban terakhir, kita dapat berdiri di hadapan Tuhan di atas segala tuhan. Meskipun kita telah berdosa, kita tidak perlu takut menghadapi penghukuman-Nya yang terakhir. Yesus telah menanggung penghukuman yang seharusnya kita terima, sehingga pada hari penghakiman terakhir, dosa kita tidak akan memisahkan kita dari Allah untuk selama-lamanya.

 

Kasih karunia bukan alasan untuk hidup sembarangan. Justru karena kita telah menerima kasih karunia, kita dapat menjalani hidup dengan sukacita di dalam batas-batas kehidupan yang bijaksana dan kudus yang Tuhan berikan. Hari penghakiman akan datang. Tetapi bagi kita yang ada di dalam Kristus, kita dapat menantikannya dengan pengharapan, karena Dia telah menanggung hukuman kita dan menjadikan kita milik-Nya.

 

Refleksi
Bacalah Wahyu 21:1-4 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Zefanya 1 - Hagai 2