ALLAH MEMBERI KITA KESEMPATAN UNTUK BERTOBAT
ZAKHARIA 1-7

 

Dalam kesabaran-Nya yang tidak terbatas, Allah menahan penghakiman-Nya dan memberikan kita kesempatan untuk kembali mengakui dosa serta bertobat kepada-Nya.

 

Ketika anak-anak masih kecil, orang tua kadang-kadang menahan diri untuk langsung memberikan hukuman ketika mereka melakukan kesalahan. Bukan karena kesalahan itu tidak penting, tetapi karena orang tua ingin memberikan kesempatan bagi anak untuk mengakui kesalahannya dan bertobat. Hal yang sama kita lihat dalam hubungan kita dengan Tuhan. Tuhan tidak hanya ingin kita takut kepada hukuman-Nya. Dia ingin hati kita berubah dan kembali kepada-Nya. 

 

Hukum Tuhan memang baik bagi kita. Hukum itu menunjukkan seperti apa kehidupan yang Tuhan kehendaki dan memberikan batas yang menolong kita mengetahui bagaimana seharusnya kita hidup. Tetapi kita juga harus menyadari keterbatasan kita. Tidak seorang pun dapat menjadi benar di hadapan Tuhan hanya dengan berusaha menaati semua perintah-Nya. Kita tidak mungkin menjalani kehidupan yang sempurna. Karena itu, ada kalanya Tuhan tidak langsung menjatuhkan penghakiman. Dia dengan sabar memberi kita kesempatan untuk mengakui dosa dan kembali kepada-Nya. 

 

Inilah yang kita lihat dalam kitab Zakharia. Kitab Zakharia ditulis ketika umat Tuhan sudah kembali ke tanah yang dijanjikan. Namun Tuhan tetap memanggil mereka untuk bertobat. Dengan belas kasihan yang penuh kelembutan, Allah memohon kepada generasi ini agar mereka tidak melakukan apa yang telah dilakukan oleh orang tua dan nenek moyang mereka: menolak peringatan Allah, memberontak terhadap perintah-Nya, dan akhirnya menghadapi penghakiman-Nya.

 

Beginilah Zakharia memulai: “Sebab itu katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Kembalilah kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN semesta alam, maka Akupun akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam. (Zak. 1:3). Perhatikan hati Tuhan dalam perkataan ini. Tuhan tidak hanya mengatakan, “Kamu sudah berdosa, maka Aku akan menghukummu.” Dia justru berkata, “Kembalilah kepada-Ku.” Inilah undangan kasih karunia.

 

Tuhan mengingatkan mereka tentang generasi sebelumnya. Para nabi dahulu sudah berkali-kali memperingatkan nenek moyang mereka untuk meninggalkan jalan-jalan yang jahat dan kembali kepada Tuhan. Tetapi mereka tidak mau mendengarkan. Sekarang Tuhan memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk mengambil jalan yang berbeda. Mereka tidak harus mengulangi pemberontakan nenek moyang mereka. Mereka dapat bertobat dan kembali kepada Tuhan.

 

Zakharia mencatat juga: “Tetapi segala firman dan ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepada hamba-hamba-Ku, para nabi, bukankah itu telah sampai kepada nenek moyangmu?  Maka bertobatlah mereka serta berkata: Sebagaimana TUHAN semesta alam bermaksud mengambil tindakan terhadap kita sesuai dengan tingkah laku kita dan perbuatan kita, demikianlah Ia mengambil tindakan terhadap kita! (Zak. 1:6). Artinya, pertobatan dimulai ketika kita berhenti membenarkan diri sendiri dan mengakui bahwa Tuhan benar dan kita membutuhkan kasih karunia-Nya.

 

Mungkin hari ini Tuhan sedang menunjukkan sesuatu dalam hidup kita yang perlu kita akui. Mungkin ada dosa yang terus kita sembunyikan, kepahitan, ketidaktaatan, atau sesuatu yang selama ini kita tahu tidak berkenan kepada Tuhan. Jangan mengeraskan hati. Kesabaran Tuhan bukan berarti Dia menganggap dosa kita tidak masalah. Kesabaran-Nya adalah kesempatan bagi kita untuk bertobat.

 

Kita juga perlu mengingat bahwa pertobatan bukan sekadar merasa bersalah. Pertobatan berarti berbalik dari dosa dan kembali kepada Tuhan. Dan kita bisa bertobat karena kita tahu bahwa ada pengharapan di dalam Kristus. Di kayu salib, Yesus menanggung hukuman yang seharusnya kita terima. Karena itu, ketika kita menyadari dosa kita, kita tidak perlu melarikan diri dari Tuhan. Kita justru dapat berlari kepada-Nya.

 

Hari ini, kalau Tuhan sedang menegur hati kita, jangan abaikan suara-Nya. Kembalilah kepada Tuhan. Akui dosa kita. Tinggalkan jalan yang salah. Terimalah kasih karunia-Nya. Karena Tuhan yang menahan penghakiman-Nya dalam kesabaran adalah Tuhan yang juga membuka pintu bagi kita untuk kembali kepada-Nya. 

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 32:1-11 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Zakharia 1-7