ALLAH MENGINGAT KITA
Bilangan 28–30

 

Pengharapan bagi anak-anak Allah tidak terletak pada kemampuan kita mengingat Dia, tetapi pada kenyataan bahwa Ia mengingat kita.

 

Bayangkan Anda bepergian ke sebuah tempat yang penuh dengan keramaian. Tiba-tiba seseorang menghampiri Anda dengan sangat ramah, memeluk Anda, dan berbicara seolah-olah Anda sangat mengenalnya. Namun, Anda sama sekali tidak mengingat siapa dia. Setelah ia memperkenalkan kembali dirinya, Anda pun tersadar: betapa mudahnya kita melupakan orang yang seharusnya kita ingat.

 

Bilangan 29 mencatat tentang peniupan nafiri pada awal pertemuan kudus di hari pertama bulan ketujuh. Peniupan nafiri itu bukan sekadar tanda dimulainya pertemuan, dan bukan hanya untuk memanggil umat Israel supaya bersiap menghadap Tuhan. Peniupan nafiri itu adalah doa, doa yang khusus dan penting (lihat Bil. 10:10). Nafiri tidak ditiup bagi umat, melainkan bagi Tuhan. Bunyi itu menjadi seruan agar Allah mengingat umat-Nya dan dalam ingatan-Nya itu, agar Allah terus membimbing, melindungi, dan memelihara mereka. Keamanan Israel pada masa kini dan pengharapan mereka di masa depan berdiri di atas satu dasar: bahwa Allah akan mengingat umat-Nya dan semua janji yang telah Ia berikan kepada mereka—janji tentang penyertaan-Nya, pemeliharaan-Nya, perlindungan-Nya, dan anugerah pengampunan-Nya.

 

Bangsa Israel tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan apa yang harus dikendalikan, menaklukkan apa yang harus ditaklukkan, atau menyediakan apa yang harus disediakan. Mereka sepenuhnya bergantung pada Allah yang mengingat mereka dan bertindak demi kebaikan mereka. Mereka tidak akan pernah menjadi bangsa yang mandiri sepenuhnya, tetapi akan selalu membutuhkan anugerah Allah yang mengingat dan memelihara mereka.

 

Demikian pula ketika Allah memanggil kita kepada diri-Nya, Ia tidak sedang membawa kita dari ketergantungan menuju kemandirian. Kedewasaan rohani bukanlah tentang menjadi mandiri, tetapi tentang semakin rela untuk sepenuhnya bergantung pada anugerah Kristus yang memelihara. Kita dapat bergantung kepada-Nya karena kita tahu bahwa Allah tidak pernah lupa dan tidak pernah kehilangan jejak satu pun dari anak-anak-Nya. Dengan kasih yang sempurna, Ia mengingat semua yang telah Ia janjikan kepada kita di dalam Kristus. Dan karena Ia mengingat, kita memiliki pengharapan dan pertolongan saat ini, serta masa depan yang terjamin.

 

Di dalam Kristus, Allah tidak hanya memanggil kita untuk mengingat Dia, tetapi terlebih dahulu Ia sendiri mengingat kita. Salib menjadi bukti terbesar bahwa kita tidak pernah dilupakan. Ketika kita lemah, gagal, dan tidak berdaya, anugerah-Nya tetap bekerja. Karena Dia mengingat, kita boleh hidup dalam damai, bersandar penuh, dan melangkah dengan pengharapan yang teguh. Adalah baik untuk selalu mengingat Tuhan kita, tetapi jauh lebih mulia mengetahui bahwa Ia selalu mengingat kita.

 

Refleksi
Bacalah Yesaya 49:8–16 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 28-30