HUKUM YANG DIBERIKAN OLEH ANUGERAH
Keluaran 19–21
Perintah-perintah Allah bukanlah cara untuk mendapatkan perkenanan-Nya. Sebaliknya, hukum Allah adalah anugerah kasih karunia yang diberikan kepada mereka yang sudah lebih dahulu menerima perkenanan-Nya.
Sangat penting bagi kita untuk memahami bahwa hukum Allah sungguhlah baik dan indah, namun hukum itu tidak dapat membawa kita masuk ke dalam relasi dengan Allah. Seandainya manusia memiliki keinginan dan kemampuan untuk menaati hukum Allah secara sempurna, maka seluruh kisah penebusan dan pesan anugerah tidak akan pernah diperlukan. Jika hukum Taurat sanggup memberi hidup—jika hukum itu memiliki kuasa untuk menyelamatkan dan mengubahkan hati kita—maka kematian dan kebangkitan Yesus Kristus tidaklah perlu.
Namun kenyataannya, kebenaran yang Allah tuntut mustahil kita capai dengan usaha dan tekad kita sendiri. Hukum Allah berfungsi dengan sangat baik untuk menyatakan dosa kita dan menjadi penuntun yang indah bagi kehidupan sehari-hari, tetapi hukum itu tidak berkuasa menyelamatkan kita atau membuat kita benar di hadapan Allah.
Keluaran 19 memberikan gambaran yang sangat menolong. Ketika Allah pertama kali memberikan hukum-Nya, Ia melakukannya setelah terlebih dahulu menebus umat-Nya. Bangsa Israel baru saja dibebaskan dari perbudakan di Mesir dan dibawa ke kaki Gunung Sinai. Mereka tidak menerima hukum supaya menjadi milik Allah, tetapi karena mereka sudah menjadi milik-Nya. Hukum itu adalah pemberian anugerah, bukan syarat keselamatan.
Allah mengetahui bahwa umat-Nya tidak tahu bagaimana hidup dengan benar. Karena itu, Ia memberikan hukum sebagai kerangka kehidupan sehari-hari—agar mereka hidup dalam damai dan keteraturan. Allah juga tahu bahwa mereka akan hidup di tengah bangsa-bangsa kafir dengan berbagai godaan, sehingga hukum-Nya menjadi batas perlindungan bagi mereka. Namun lebih dari itu semua, inti hukum Allah adalah panggilan untuk menyembah Dia dan Dia saja. Hukum diberikan agar umat-Nya hidup berdamai dengan Allah dan dengan sesama.
Hukum Taurat tidak diberikan untuk memperoleh kasih Allah, melainkan karena kasih Allah telah lebih dahulu dinyatakan. Kebenaran ini merendahkan hati kita. Seperti bangsa Israel, kita pun tidak memiliki kuasa apa pun untuk mengusahakan persekutuan kekal dengan Allah. Bahkan perbuatan kita yang paling benar pun jauh dari standar kekudusan-Nya. Di luar anugerah, kita tidak memiliki pengharapan.
Namun inilah Injil yang menghibur: Yesus Kristus telah menaati hukum Allah dengan sempurna sebagai pengganti kita. Oleh anugerah-Nya, kita berdiri benar di hadapan Allah—bukan karena apa yang kita kerjakan, tetapi karena apa yang Kristus telah kerjakan bagi kita. Apa yang tidak dapat kita peroleh, Kristus telah memperolehnya bagi kita. Itulah anugerah sejati.
Refleksi
Bacalah Yakobus 1:22-25 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 19-21