ANUGERAH SABAT
Keluaran 22–24

 

Kita menyembah dan melayani Allah yang sangat mengenal keterbatasan kita. Karena itulah Ia memanggil kita kepada Sabat—hari perhentian yang penuh anugerah.

 

Penetapan hari Sabat bukan terutama sebuah beban atau kewajiban yang harus ditaati, melainkan sebuah pemberian kasih karunia dari Allah yang menciptakan kita dan mengenal kita dengan sangat baik. Allah menciptakan manusia dengan batasan. Jika kita kembali mengingat kisah penciptaan, satu-satunya Pribadi yang tidak memiliki batas apa pun adalah Sang Pencipta. Sebaliknya kita hidup dengan keterbatasan waktu, tenaga, kemampuan, dan hikmat.

 

Coba kita renungkan batasan waktu yang Allah tetapkan untuk membentuk ritme hidup kita. Kita tidak akan pernah memiliki tiga puluh jam dalam satu hari. Kita tidak akan pernah diberi sepuluh hari dalam satu minggu. Kita tidak akan pernah menjalani bulan dengan empat puluh hari, atau tahun dengan ratusan hari tambahan. Dalam hikmat-Nya yang sempurna, Allah telah menetapkan batas waktu bagi hidup kita. Di luar batas itu, tidak ada waktu ekstra. Tidak ada cadangan waktu yang bisa kita ambil. Selama kita hidup di dunia ini, kita semua berjalan di dalam batas waktu yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta.

 

Selain keterbatasan waktu, kita juga memiliki keterbatasan fisik yang nyata. Anda dan saya tidak diciptakan dengan energi yang tanpa batas—baik secara fisik, mental, emosional, maupun rohani. Rasa lelah adalah pengalaman manusia yang umum. Kita tahu bagaimana rasanya kelelahan secara fisik. Kita juga pernah mengalami keletihan pikiran dan emosi. Ada saat-saat di mana kita ingin terus melangkah, tetapi kekuatan kita sudah tidak mencukupi. Karena itulah, dalam hikmat dan kasih-Nya, Allah menetapkan hari Sabat: “Enam hari lamanya engkau akan melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh engkau akan berhenti, supaya lembu dan keledaimu mendapat ketenangan, dan supaya anak dari hambamu perempuan serta orang asing dapat merasa lega.” (Kel. 23:12).

 

Panggilan untuk memelihara Sabat dimaksudkan untuk merendahkan hati kita dengan mengingat bahwa kita terbatas. Sabat adalah anugerah yang menyatakan bahwa Tuhan mengerti kita dan tidak pernah memanggil kita untuk hidup melampaui batas yang telah Ia tetapkan. Sabat berbeda dari kemalasan. Sabat adalah kebebasan—sebuah pengingat bahwa beristirahat adalah bagian dari ketaatan.

 

Namun makna Sabat bukan hanya tentang istirahat fisik. Sabat adalah panggilan untuk beristirahat secara rohani. Sabat mengingatkan kita bahwa kita tidak diciptakan untuk hidup mandiri dan mengandalkan diri sendiri. Kita diciptakan untuk bergantung kepada Sang Pencipta, untuk menemukan kekuatan dan kepuasan hidup kita hanya di dalam Dia. Sabat diberikan bukan hanya supaya kita berhenti bekerja, tetapi supaya kita belajar beristirahat di dalam Allah. 

 

Dalam terang Injil, Sabat menunjuk kepada Kristus. Yesus adalah perhentian sejati kita. Kemandirian manusia dan rasa cukup diri adalah ilusi—bukan jalan menuju hidup, melainkan jalan menuju kelelahan dan kebinasaan. Di dalam Kristus, kita diajak untuk mengakui kebutuhan kita, menerima keterbatasan kita, dan datang kepada Dia yang tidak pernah habis memberi hidup dan kekuatan baru.

 

Sabat adalah undangan Allah untuk berhenti sejenak dari pekerjaan kita, mengingat siapa kita dan siapa Dia, supaya dalam penyerahan diri dan perhentian di dalam Kristus, kita kembali menemukan hidup, pemulihan, dan kekuatan yang sejati.

 

Refleksi
Bacalah Markus 2:23-28 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 22-24