KITA TIDAK PERNAH TANPA RAJA
Hakim-Hakim 19–21
Bahkan di tengah kekosongan kepemimpinan manusia yang paling gelap sekalipun, umat Allah tidak pernah tanpa Raja.
Ayat terakhir kitab Hakim-Hakim berkata, “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hak. 21:25). Kalimat ini adalah gambaran yang kelam, kacau, dan penuh ketidakharmonisan, yang terus diulang dalam kitab Hakim-hakim. Setelah dipilih menjadi umat Allah, setelah menyaksikan perbuatan-Nya yang besar, setelah berulang kali dibebaskan oleh para hakim, setelah menerima perlindungan dan peringatan demi peringatan—bangsa Israel justru kini hidup dalam kekacauan moral.
Moralitas menjadi sangat individualistis; setiap orang menjadikan dirinya sendiri sebagai otoritas tertinggi. Walaupun mereka tetap umat pilihan Tuhan, secara fungsional mereka mengabaikan kehadiran dan otoritas-Nya. Inilah kondisi hati manusia tanpa Injil: kita cenderung menjadikan diri sendiri sebagai “raja” atas hidup kita.
Karena itu, bangsa Israel sangat membutuhkan seorang raja manusia—seorang pemimpin pilihan Allah yang bukan hanya memimpin dalam pemerintahan dan peperangan, tetapi juga membawa bangsa itu kembali kepada penyembahan dan ketaatan kepada Tuhan yang telah membebaskan mereka dari perbudakan. Tuhan sudah memberikan hukum-Nya, menyediakan pengampunan dosa, dan mengalahkan musuh mereka. Namun mereka tetap membutuhkan pemimpin yang saleh untuk membawa reformasi rohani.
Namun ketika membaca ayat ini, kita berpikir: bukankah Israel sebenarnya sudah memiliki Raja? Mereka memiliki Sang Pencipta, Penguasa, Raja di atas segala raja. Mereka memang membutuhkan Daud—seorang yang berkenan di hati Allah. Tetapi lebih dari itu, mereka membutuhkan Raja yang sempurna, Anak Daud, yaitu Yesus Kristus.
Yesus adalah Raja yang sempurna, yang tidak pernah gagal, tidak pernah meninggalkan umat-Nya, dan memerintah dengan kasih karunia dan kebenaran. Masalah bangsa Israel bukan karena mereka tidak memiliki Raja, tetapi karena mereka terus menolak Raja yang sejati. Mereka lebih memilih hidup dengan aturan mereka sendiri daripada tunduk kepada pemerintahan Tuhan.
Dan inilah Injil bagi kita: Yesus datang bukan hanya untuk menjadi Raja kita, tetapi juga untuk menjadi Juruselamat yang menyelamatkan kita dari pemberontakan kita terhadap Allah. Di kayu salib, Raja itu tidak memerintah dengan pedang, tetapi dengan pengorbanan. Ia mati menggantikan kita, supaya kita yang memberontak bisa diperdamaikan kembali dengan Allah. Ia bangkit, membuktikan bahwa Ia adalah Raja yang hidup dan berkuasa untuk selama-lamanya.
Karena itu, respons kita bukan sekadar mengakui Yesus sebagai Raja, tetapi dengan sukacita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Apa pun “raja-raja” dalam hidup kita—ambisi, kenyamanan, penerimaan orang lain, atau bahkan diri sendiri—semua itu bersifat sementara dan tidak pernah bisa menyelamatkan. Kiranya Tuhan memberi kita anugerah untuk dengan sukacita menyerahkan kehendak kita kepada kehendak Sang Raja yang sempurna dan kekal, yaitu Yesus Kristus.
Refleksi
Bacalah Mazmur 47:7–9 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 19-21