BUDAYA YANG MELEMAHKAN IMAN
Bilangan 33–34
Selalu ada bahaya bahwa budaya di sekitar kita akan melemahkan kepercayaan dan ketundukan kita setiap hari kepada Juruselamat kita.
Kita yang percaya kepada Yesus Kristus sekarang hidup di tengah pengaruh media sosial yang sangat kuat, berbagai layanan streaming tanpa batas, dan arus informasi serta hiburan yang berjalan dua puluh empat jam sehari. Kita terus-menerus dibentuk di bawah pengaruh suara-suara yang tidak berbicara dari sudut pandang Alkitab dan yang telah menolak teguran maupun penghiburan dari Injil Yesus Kristus. Kita mungkin berpikir bahwa, meskipun hidup kita dipenuhi oleh kebisingan tanpa henti, kita merasa tidak akan terpengaruh olehnya. Namun, sesungguhnya musuh jiwa kita akan merasa cukup puas bila kita tetap rajin beribadah dan memegang ajaran yang benar, asalkan ia dapat menguasai pikiran, perhatian, dan keinginan hati kita dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak dari kita bahkan tidak mampu bertahan tiga puluh detik tanpa meraih ponsel. Banyak yang langsung mencari ponsel begitu bangun tidur, dan memeriksanya sekali lagi sebelum tidur. Kita sadar bahwa kita telah berubah, tetapi sering kali kita tidak sungguh-sungguh bergumul dengan sifat perubahan itu.
Apa itu budaya? Jawaban sederhananya: manusia yang diciptakan menurut gambar Allah berinteraksi dengan dunia ciptaan Allah, dan dari interaksi itulah budaya terbentuk. Umat Allah selalu hidup di tengah budaya dan pengaruhnya. Saat Israel memasuki tanah perjanjian, Allah memberikan peringatan yang sangat serius: “Tetapi jika kamu tidak menghalau penduduk negeri itu dari depanmu, maka orang-orang yang kamu tinggalkan hidup dari mereka akan menjadi seperti selumbar di matamu dan seperti duri yang menusuk lambungmu, dan mereka akan menyesatkan kamu di negeri yang kamu diami itu” (Bil. 33:55).
Inilah perkataan Allah yang tidak rela hati anak-anak-Nya menyerahkan diri kepada illah-illah lain. Ia mengenal hati anak-anak-Nya mudah menyimpang. Berkali-kali mereka menunjukkan bahwa mereka lebih setia kepada kenyamanan sendiri daripada kepada kehendak-Nya. Padahal kasih Allah kepada mereka begitu besar. Namun mereka tetap bisa tidak setia, bahkan berani meragukan hikmat, kesetiaan, dan kasih Allah.
Semua ini mengajarkan bahwa, betapa pun setianya umat Allah menjalankan sistem ibadah dan hari-hari raya yang telah ditetapkan, hati mereka tetap rentan untuk menyimpang dari Allah dan dari rencana-Nya. Karena itu, Allah memperingatkan bahaya hidup berdampingan dan berasimilasi dengan budaya yang tidak mengenal Dia, sebab akhirnya itu akan menuntun kepada penyembahan ilah-ilah lain.
Meskipun kita hidup di zaman dan tempat yang berbeda dengan bangsa Israel, peringatan ini tetap relevan hingga hari ini. Kasih karunia Yesus yang menjaga kita mendorong kita untuk terus mencari dan merayakan anugerah yang sama itu, meskipun budaya di sekitar kita jarang menguatkan iman kita. Peringatan dalam kitab Bilangan ini ditegaskan kembali dalam Perjanjian Baru: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu” (1 Yoh. 2:15).
Inilah panggilan Injil bagi kita: hidup dalam kasih kepada Bapa, setia kepada Kristus, dan berjaga-jaga agar hati kita tidak ditawan oleh budaya yang menjauhkan kita dari Allah.
Refleksi
Bacalah 1 Yohanes 2:15–17 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 33-34