ALLAH BERDIAM DI TENGAH UMAT-NYA
Keluaran 25–27

 

“Di tengah dunia yang rapuh, satu janji ini cukup untuk menopang jiwa: Allah berdiam di tengah umat-Nya.”

 

Ada begitu banyak situs web dan konten media yang didedikasikan untuk dekorasi rumah. Sadar atau tidak, kita semua cukup spesifik tentang seperti apa rumah yang kita inginkan. Ada yang sangat serius memikirkan tampilan rumahnya dan rela menginvestasikan waktu serta uang agar rumah itu sesuai dengan impian mereka. Ada juga yang lebih santai soal lingkungan sekitarnya. Ada yang sangat menghargai kerapian dan kebersihan; ada pula yang justru merasa lebih nyaman dengan sedikit kekacauan. Namun satu hal yang pasti: kita semua, dengan caranya masing-masing, mengekspresikan kepribadian dan nilai-nilai kita lewat cara kita menata dan merawat ruang tempat kita tinggal. Itulah sebabnya, ketika Anda berada di rumah orang lain, rasanya tidak pernah sepenuhnya seperti rumahmu sendiri.

 

Dalam Keluaran 25 dan pasal-pasal setelahnya, kita menemukan petunjuk Allah tentang pembangunan dan penataan rumah yang paling penting yaitu rumah Tuhan. Firman Tuhan berkata: “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka. Tepat seperti yang Kutunjukkan kepadamu tentang pola Kemah Suci dan segala perlengkapannya, demikianlah harus kamu membuatnya” (Kel. 25:8–9).

 

Seharusnya hati kita dipenuhi rasa kagum saat membaca ayat-ayat ini. Bagaimana mungkin Sang Pencipta yang agung, Raja yang berdaulat, dan Yang Mahakudus ingin berdiam di tengah-tengah umat yang berdosa, suka bersungut-sungut, dan sering memberontak ini? Namun, di sinilah Injil mulai bersinar: Allah mencurahkan kasih-Nya kepada umat-Nya bukan karena apa yang ada dalam diri mereka, melainkan karena siapa Dia adanya. Tidak ada yang lebih kuat menunjukkan betapa menakjubkan anugerah Allah saat Ia memerintahkan umat-Nya untuk membuat Kemah Suci supaya Ia dapat diam bersama mereka. Pengharapan Israel hanya ditemukan di satu tempat dan satu Pribadi: Tuhan yang mulia dan anugerah yang tinggal di tengah-tengah mereka.

 

Namun ada makna yang lebih dalam. Allah bukan hanya berkata bahwa Ia akan diam di tengah umat-Nya, tetapi Ia juga sangat memperhatikan bagaimana rumah-Nya dibangun, dilengkapi, dan dihias. Rumah Tuhan harus menyatakan siapa Dia dan apa yang Ia hargai. Kemah Suci itu dimaksudkan untuk menyampaikan dua hal sekaligus: kekudusan Allah yang tak terjangkau dan belas kasihan Allah yang mengampuni.

 

Kemah Suci ini bukan sekadar bangunan; ia adalah sebuah nubuat. Akan datang suatu tempat di mana kekudusan Allah yang sempurna dan kasih pengampunan-Nya bertemu: salib Yesus Kristus. Di salib, oleh rencana kasih karunia Allah, Anak Domba yang kudus dan sempurna mempersembahkan diri-Nya, supaya kita diangkat menjadi anak-anak Allah, dan supaya Allah sendiri berkenan diam bersama kita.

 

Allah yang kudus kini berdiam di tengah anak-anak-Nya yang belum sempurna—dan inilah pengharapan kita hari ini. Betapa ajaibnya kasih karunia itu: oleh anugerah, kita telah dijadikan rumah tempat Allah berdiam.

 

Refleksi
Bacalah Yeremia 31:31-39 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 25-27