MENGGUNAKAN HARI-HARI KITA DENGAN BIJAKSANA
MAZMUR 90–95

 

Belajar hidup dalam batas yang Tuhan tetapkan adalah bagian dari hidup yang berhikmat dan bergantung kepada-Nya.

 

Tuhan, dalam hikmat-Nya yang sempurna, menciptakan manusia dengan berbagai keterbatasan. Salah satu keterbatasan yang paling nyata adalah waktu. Kita semua hanya memiliki dua puluh empat jam dalam sehari. Tidak ada yang mendapatkan hari yang lebih panjang. Kita tidak bisa menambah jumlah hari dalam hidup kita sesuka hati, dan tidak seorang pun akan hidup selamanya di dunia yang telah jatuh dalam dosa ini.

 

Sering kali kita hidup seolah-olah batasan itu tidak ada. Kita membuat begitu banyak rencana, memenuhi jadwal dengan berbagai aktivitas, dan menjalani hari tanpa memikirkan bahwa waktu yang kita miliki sebenarnya terbatas. Allah menciptakan kita dengan batas waktu. Menyangkal kenyataan ini hanya akan membawa kesulitan. Karena itu pemazmur berdoa: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mzm. 90:12).

 

Perhatikan hubungan yang dibuat oleh pemazmur. Menghitung hari-hari kita berkaitan erat dengan memperoleh hati yang bijaksana. Orang yang menyadari bahwa waktunya terbatas akan hidup dengan lebih berhati-hati. Ia tidak ingin menghabiskan hidupnya untuk hal-hal yang tidak penting. Ia ingin menggunakan waktu yang Tuhan berikan untuk hal-hal yang bernilai dan berkenan kepada-Nya. Ketika kita mengingat bahwa hidup ini singkat, kita perlu bertanya: "Apa yang sungguh penting? Apa yang memiliki nilai kekal? Bagaimana saya dapat menggunakan waktu yang Tuhan berikan dengan baik?"

 

Sayangnya, membuang waktu jauh lebih mudah dilakukan pada zaman sekarang. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, kita dikelilingi oleh berbagai hal yang terus menarik perhatian kita. Media sosial, video tanpa henti, berita, hiburan, dan berbagai bentuk distraksi lainnya dapat menghabiskan berjam-jam waktu kita tanpa kita sadari. Bahkan sering kali kita menutup hari dengan perasaan sibuk, tetapi sebenarnya tidak banyak hal yang benar-benar bernilai yang telah kita kerjakan. Masalahnya bukan hanya karena banyaknya gangguan di sekitar kita. Masalah yang lebih dalam ada di dalam hati kita sendiri.

 

Secara alami, kita lebih menyukai kenyamanan daripada disiplin. Kita lebih mudah memilih hiburan daripada belajar, bertumbuh, melayani, atau mengerjakan hal-hal yang penting. Kita sering memilih apa yang menyenangkan saat ini daripada apa yang bernilai untuk kekekalan.

 

Karena itu, seperti seluruh Kitab Mazmur, Mazmur 90 pada akhirnya mengarahkan kita kepada Injil. Masalah terbesar kita bukan hanya dunia yang rusak di sekitar kita, tetapi juga hati kita yang masih bergumul dengan dosa. Kita membutuhkan lebih dari sekadar pengampunan; kita membutuhkan perubahan hati.

 

Kabar baiknya adalah Yesus datang bukan hanya untuk mengampuni dosa kita, tetapi juga untuk membebaskan dan mengubah kita. Melalui anugerah-Nya, Dia memberi kita kemampuan untuk hidup dengan bijaksana. Dia menolong kita menerima keterbatasan kita, menggunakan waktu dengan baik, dan mengarahkan hidup kepada hal-hal yang memiliki nilai kekal.

 

Hari-hari kita memang terbatas. Namun setiap hari adalah pemberian Tuhan yang berharga. Karena itu, marilah kita memohon anugerah-Nya agar kita menggunakan waktu yang telah Dia percayakan dengan bijaksana, untuk kemuliaan-Nya dan bagi hal-hal yang akan bertahan sampai kekekalan.

 

Refleksi
Bacalah Mazmur 39:5–6 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:

 

  1. Apa yang Anda pelajari tentang Tuhan dari renungan ini?
  2. Apa yang Anda pelajari tentang dirimu dari renungan ini?
  3. Apa yang perlu Anda pertobatkan dan terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 90-95