INTEGRITAS HATI, INTEGRITAS HIDUP
MAZMUR 96–102
Salah satu pergumulan terbesar orang percaya adalah ketika apa yang kita akui dengan mulut tidak sejalan dengan cara kita hidup.
Teologi bukan sekadar kegiatan intelektual atau pengetahuan yang memenuhi pikiran. Teologi adalah sesuatu yang membentuk seluruh hidup kita. Apa yang sungguh-sungguh kita percayai akan selalu terlihat dari cara kita hidup. Tidak sulit untuk mengetahui banyak hal tentang Tuhan. Kita bisa mempelajari Alkitab, mendengarkan khotbah, mengikuti kelas, bahkan menjelaskan berbagai doktrin dengan baik. Namun mengetahui kebenaran dan hidup berdasarkan kebenaran adalah dua hal yang berbeda.
Sering kali kita mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi cara kita hidup menunjukkan sesuatu yang lain. Kita berkata bahwa percaya kepada anugerah, tetapi cara Anda memperlakukan keluarga tidak mencerminkan anugerah itu. Kita berkata bahwa Tuhan memanggil kita untuk mengasihi sesama, tetapi kita mudah marah, tidak sabar, dan menyakiti orang-orang terdekat kita. Kita berkata bahwa Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, tetapi hati kita dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana. Kita berkata bahwa kita telah menerima pengampunan Tuhan, tetapi kita menyimpan kepahitan dan sulit mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kita berkata bahwa Tuhan adalah yang terutama dalam hidup kita, tetapi keputusan-keputusan kita sering kali lebih dipengaruhi oleh kenyamanan, kesenangan, atau keuntungan pribadi. Kita berkata bahwa Allah itu kudus, tetapi dalam kehidupan pribadi Anda justru memberi tempat bagi dosa dan pencobaan.
Inilah pergumulan yang nyata dalam hidup setiap orang percaya. Ada jarak antara apa yang kita katakan kita percayai dan apa yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah pergumulan antara pengakuan iman dan kehidupan sehari-hari inilah, kita diarahkan kepada Mazmur 101: "Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku. Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila; perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku." (Mzm. 101:2–3).
Pemazmur tidak hanya berbicara tentang ibadah di depan umum. Ia berbicara tentang kehidupan pribadi, tentang bagaimana ia hidup ketika tidak ada orang yang melihat. Di situlah integritas diuji. Integritas berarti tidak ada jurang antara apa yang kita katakan kita percayai dengan tindakan, reaksi, dan respons kita sehari-hari. Apa yang kita akui pada hari Minggu terlihat juga dalam cara kita berbicara, bekerja, melayani, menggunakan waktu, memperlakukan orang lain, dan menghadapi pencobaan sepanjang Senin-Sabtu.
Namun jika kita jujur, tidak ada seorang pun yang memiliki integritas yang sempurna. Kita semua pernah gagal hidup sesuai dengan apa yang kita yakini. Kita semua pernah mengetahui apa yang benar, tetapi memilih jalan yang salah. Jika integritas sempurna bisa kita capai dengan kekuatan sendiri, kita tidak memerlukan Juruselamat. Namun kenyataannya, kita membutuhkan anugerah-Nya setiap hari.
Inilah kabar baik Injil: Yesus bukan hanya menuntut integritas dari kita, tetapi Ia terlebih dahulu hidup dengan integritas yang sempurna bagi kita. Yesus bukan hanya mengampuni kegagalan kita. Dia juga bekerja mengubah hati kita sehingga perlahan-lahan kehidupan kita semakin selaras dengan kebenaran yang kita percayai.
Selama kita masih hidup di dunia ini, pergumulan itu akan tetap ada. Akan selalu ada jarak antara siapa kita sekarang dan siapa yang Tuhan sedang bentuk. Namun Tuhan tidak meninggalkan kita dalam pergumulan tersebut. Dengan kesabaran, kasih, dan anugerah-Nya yang tidak pernah habis, Dia terus bekerja membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.
Karena itu, hari ini jangan hanya bertanya, "Apa yang saya percayai?" Tanyakan juga, "Apakah cara saya hidup menunjukkan apa yang saya percayai?" Dan ketika Anda melihat kelemahan serta ketidaksesuaian dalam hidup Anda, jangan putus asa. Datanglah kepada Kristus. Mintalah anugerah-Nya untuk hidup dengan integritas, sehingga apa yang Anda akui dengan mulut semakin nyata dalam tindakan, respons, dan keputusan sehari-hari.
Refleksi
Bacalah Yakobus 1:19–27 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 96-102