TUHAN BEKERJA DI BALIK KESULITAN
RUTH 1–4
Sering kali ketika Allah tampak seolah-olah tidak hadir di tengah penderitaan, sebenarnya Ia sedang menjalankan kedaulatan-Nya untuk memberikan karunia anugerah yang baik kepada anak-anak-Nya.
Kita semua pernah melewati masa-masa sulit ketika kita bertanya-tanya di mana Allah berada dan bingung tentang apa yang sedang Ia kerjakan. Namun, jika kita membaca keseluruhan kisah Alkitab, kita akan segera menyadari bahwa kesulitan tidak berarti Allah tidak hadir, jauh, tidak terlibat, atau tidak peduli. Di balik awan gelap kesulitan, ada Allah yang sedang bekerja secara aktif demi kebaikan anak-anak-Nya.
Sering kali Allah membawa anak-anak-Nya ke tempat-tempat yang tidak pernah mereka rencanakan, supaya Ia dapat menghasilkan di dalam dan melalui mereka hal-hal yang tidak mungkin mereka hasilkan sendiri. Penting bagi kita untuk menyadari bahwa karya anugerah Allah tidak selalu dapat diprediksi atau terasa nyaman. Bahkan ketika kita merasa anugerah telah melewati kita, sebenarnya anugerah Allah sedang bekerja—hanya saja tidak dengan cara yang kita bayangkan.
Kitab Rut, salah satu kisah yang indah dalam Alkitab, juga menyimpan sebuah kisah yang lebih dalam. Di permukaan, kitab ini tampak seperti kisah cinta yang indah, bahkan menjadi salah satu dari sedikit cerita Alkitab yang menempatkan perempuan sebagai tokoh utama. Namun sebenarnya ada kisah kasih yang jauh lebih besar di dalamnya: kisah tentang kasih Allah yang teguh dan tidak dapat dihentikan bagi anak-anak-Nya.
Melalui kisah tentang penderitaan manusia, Allah menunjukkan bahwa Ia bertindak dengan hikmat dan kedaulatan-Nya. Ia mengingat perjanjian-Nya, tetap setia, dan bahkan melalui kesulitan, Ia memberikan karunia kebaikan dan anugerah kepada umat-Nya. Walaupun kisah Naomi, Rut, dan Boas sangat menyentuh, tokoh utama yang sebenarnya dalam cerita ini adalah Tuhan sendiri. Melalui peristiwa-peristiwa sulit dan relasi manusia, Allah sedang mengarahkan seluruh kisah menuju rencana penebusan-Nya.
Di akhir cerita, Rut dan Boas memiliki seorang anak laki-laki. “Dan Naomi mengambil anak itu serta meletakkannya pada pangkuannya dan dialah yang mengasuhnya. Dan tetangga-tetangga perempuan memberi nama kepada anak itu, katanya: 'Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki'; lalu mereka menyebutkan namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud” (Rut 4:16–17).
Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita apa yang sebenarnya menjadi inti cerita ini sejak awal. Allah bukan hanya menolong Rut dan mempersatukannya dengan Boas, tetapi Ia juga memberikan seorang anak kepada keluarga ini. Anak itu, Obed, akan memiliki seorang anak bernama Isai; Isai akan memiliki seorang anak bernama Daud; dan dari keturunan Daud inilah akan lahir Sang Juruselamat, Yesus Kristus.
Melalui kisah kecil tentang penderitaan dan kasih ini, Allah sedang menata sesuatu yang jauh lebih besar: janji yang paling agung, karunia yang melampaui segala karunia, yaitu Juruselamat, Yesus Kristus, yang akan menggenapi kasih penebusan Allah kepada manusia.
Allah telah bekerja dan akan terus bekerja sampai rencana penebusan-Nya tergenapi sepenuhnya. Inilah kisah terbesar yang melandasi semua kisah lainnya. Ingatlah bahwa di titik pertemuan antara kedaulatan Allah dan anugerah-Nya, di sanalah kehidupan dan pengharapan sejati ditemukan. Dalam terang Injil, kita melihat bahwa tidak ada satu pun penderitaan yang sia-sia—semuanya sedang dipakai Allah untuk membawa kita kepada Kristus, dan melalui Kristus, kepada pengharapan yang kekal.
Refleksi
Bacalah 1 Petrus 1:3–12 untuk pendalaman lebih lanjut dan jawablah pertanyaan reflektif hari ini:
Bacaan Alkitab Setahun: Rut 1-4