YANG MENGHAKIMI AKU, IALAH TUHAN

Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai. Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. 1 Korintus 4:2−4

 

Setiap orang yang pernah memimpin—baik sebagai guru, politisi, ilmuwan, kapten tim, atau CEO—mengerti kerentanan yang muncul ketika memikul tanggung jawab. Siapa pun yang memimpin akan menyadari bahwa selalu ada sorotan yang tertuju kepadanya, sehingga rawan disalahpahami atau dituduh tidak benar.

 

Ketika Paulus menggambarkan pelayan Tuhan yang baik—pemimpin—kepada gereja Korintus, dia tidak mengatakan tentang popularitas, karunia, pengaruh, atau bahkan kesuksesan mereka. Tidak, ujian nyata dari jenis kepemimpinan Alkitabiah ini adalah "mereka ternyata dapat dipercayai." Kesetiaan adalah tolok ukurnya dan kesetiaan juga adalah jangkarnya. Paulus pada dasarnya mengatakan, “Aku tidak mau hidup dalam naik turunnya emosi karena pujian yang berlebihan di satu sisi atau kritik yang keras di sisi lain. Hanya satu suara yang benar-benar penting—penilaian Tuhan.”

 

Paulus menyadari bahwa dia bahkan tidak dapat secara memadai mengevaluasi kemurnian motifnya sendiri. Dia tidak menghakimi dirinya sendiri, dalam arti melihat penilaiannya terhadap diri sendiri akurat. Dia tahu "yang menghakimi aku, ialah Tuhan". Dia menyadari bahwa Allah sedang memandang ke inti dari keberadaannya dan bahwa tuntutan-Nya adalah kesetiaan. Kesadaran ini memungkinkannya untuk terus maju tanpa terganggu oleh sanjungan dari beberapa orang atau kecemburuan dan perlawanan dari orang lain.

 

Sering kali, ketika kita melihat kepemimpinan yang buruk, kita dapat melacak akar masalahnya pada seorang pemimpin yang lebih sibuk ingin disukai, dihormati, atau dipuji, daripada benar-benar memimpin. Ketika seseorang lebih mengejar penerimaan manusia daripada kesetiaan kepada Tuhan, ia tidak lagi mampu memimpin dengan sehat. Ia menjadi sulit mendengar kebenaran, sulit berkata jujur, dan sulit mengambil keputusan yang benar.

 

Sepanjang hidup, jika kita selalu menilai diri berdasarkan opini orang lain, kita tidak akan pernah hidup dengan tenang. Manusia tidak sempurna; komentar dan kritik selalu bercampur dengan kelemahan. Jika kita membiarkan hati kita digerakkan oleh penilaian yang tidak sempurna itu, kita akan kehilangan damai. Karena itu, penting bagi kita untuk memeriksa diri kita di hadapan Tuhan—bukan demi membenarkan diri, tetapi untuk hidup setia di mata-Nya.

 

Ingatlah, hanya ada satu penghakiman yang pada akhirnya berarti—penilaian dari Tuhan.
Pemimpin sejati mencari perkenanan Tuhan, bukan manusia. Inilah kabar baik Injil: kita dipanggil untuk hidup setia berdasarkan kasih karunia Kristus, bukan berdasarkan tekanan untuk menyenangkan semua orang. Tuhan mencari kesetiaan kita, dan melalui Roh Kudus, Ia memampukan kita untuk berjalan dalam kesetiaan itu. Biarkan itu menjadi tolok ukur yang membebaskan tentang bagaimana Anda berperilaku sebagai pemimpin, orang tua, pasangan, teman—seorang Kristen.

 

Refleksi

Bacalah 1 Korintus 4:1−7 dan jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

 

1. Kebenaran Injil mana yang mengubahkan hati saya?
2. Hal apa yang perlu saya pertobatkan?
3. Apa yang bisa saya terapkan hari ini?

 

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 13-14; Lukas 7:1-23